SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #7

Season 1: TUJUH

Helen lagi merhatiin pengunjung yang terlalu dekat ke kandang monyet. Kadang emang ada jenis pengunjung kebun binatang yang buta huruf. Padahal udah jelas ada tulisan gede batas jarak yang aman, bahkan dipagar. Tapi ada aja manusia yang maksa lewatin pagar pengaman. Hasilnya, dijambak monyet atau barang-barangnya diambil. Pada akhirnya Helen sama teman-temannya juga yang harus ngambil barang-barang itu.

Hari itu Helen males ngejalanin drama pengunjung norak. Jadi ketika dilihatnya salah satu monyet berekor panjang itu sudah mengincar sesuatu yang dimiliki si pengunjung, Helen mundur pelan-pelan. Dia pergi menuju kandang rusa, dimana drama jarang kejadian. Pada langkah ke sepuluh, Helen mendengar pengunjung itu berteriak dan dia langsung berlari ngibrit.

Helen menepi di dekat kandang rusa buat ngatur napas. Diam-diam dia ketawa membayangkan ekspresi pengunjung yang teriak itu. Biarin lah, biar agak jera. 

“Helen… ada tamu buat kamu. Nunggu di dekat pintu masuk,” kata Pak Warsito, atasan Helen.

Helen mengernyit. Siapa yang nyariin dia kali ini? Minggu lalu James, kemarin Helmy… terus sekarang?

“Besok-besok kalau ada orang nyariin kamu lagi, saya SP,” ucap lelaki gendut berambut keriting itu sedikit jengkel.

Helen cuma bisa pasrah aja. Emangnya dia bisa ngelarang orang nyariin dia?

Emang bisa?

Kaki Helen terus bergerak melewati area burung kemudian reptil untuk segera sampai di pintu masuk. Untungnya ini weekday jadi pengunjung ga terlalu banyak. Kalo ini weekend, siap-siap aja nanti diceramahin Pak Warsito.

Di gerbang tiket, seorang rekan kerja Helen melambaikan tangan. Helen mendekati wanita yang dikepang dua itu.

“Tamu kamu, tuh!” katanya sambil menunjuk ke arah tanaman talas yang gede.

Helen memicingkan mata. Di sana ada seorang wanita muda memakai topi krem, kacamata hitam dan setelan coklat muda yang necis. Helen tahu siapa itu.

“Oke. Makasih, Kak Hera,” ucap Helen dan segera berlari menghampiri tamunya.

“Miss Molly?” tanya Helen memastikan.

Tante Corey itu tersenyum kemudian memeluk Helen dan mencium pipi kiri-kanan.

“Corey di tempat kamu?” tanya Ms. Molly.

Helen geleng cepet. “Enggak. Dia di tempat om James. Memang Miss ga tahu?”

Miss Molly menggeleng pelan. “Sekarang miss ga tahu apa-apa lagi soal dia.”

Helen mengajak Ms. Molly untuk menuju ruang kerja para zookeeper. Helen mempersilakan Ms. Molly untuk duduk di ruangan samping loker.

“Kemarin James datang ke rumah. Dia menjelaskan semuanya seperti juru bicara Corey.” Ms Molly memegang tangan Helen. “Kenapa dia ga menjelaskan semuanya sendiri, Helen?”

Tatapan mata Ms. Molly jelas menyiratkan kekecewaan yang dalam.

“Dia cuma takut, Miss. Dia takut ga diijinin. Dan….” Helen menggenggam balik tangan Ms. Molly. “Dia tahu kalau tantenya pasti kecewa.”

“Kamu percaya sama James?” Ms. Molly menatap Helen tepat di kedua matanya.

Helen mengangguk pelan, ragu. Waktu James datang ke kebun binatang dan mencarinya, James meminta Helen untuk membujuk Corey supaya mau tanda tangan kontrak dengan Vorstein Industries. Tapi Helen tidak melakukannya. Dia tidak mau Corey memilih hanya karena dibujuk.

Meskipun begitu, toh pada akhirnya Corey sendiri yang ingin menandatanganinya.

Dan Helen punya rasa ragu pada James. Seperti ada sesuatu yang ga lelaki itu ceritakan padanya, bahkan Corey. Seperti dia punya kepentingan pribadi yang menguntungkannya untuk membawa Corey pada keluarga Vorstein.

“Jangan percaya seratus persen pada James Jackson,” ucap Ms. Molly. “Dia memang sahabat Rey. Tapi dia datang terlalu tiba-tiba setelah menghilang begitu lama dari jaringan alumni Sintas. Kemunculannya patut dicurigai.”

Helen cuma bisa menarik napas dan mengeluarkannya dengan teratur. Tapi akhirnya dia berani untuk bertanya, “Miss maafin Corey? Maafin kita yang sudah membuat keputusan ini sendiri?”

Ms. Molly menatap Helen beberapa detik kemudian mengelus rambutnya pelan. “Dia juga udah cerita, ya?” katanya sambil tersenyum kecil. “Setidaknya sekarang Corey punya tempat buat cerita semuanya dengan jujur. Miss senang kalau kamu sama Corey bisa sedekat ini.”

Helen sedikit lega melihat senyuman itu timbul di wajah cantik Ms. Molly.

Lihat selengkapnya