SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #8

Season 2: SATU

Bengkel Mad Monkey ga pernah sepi. Selalu ada suara baut jatuh atau makian pelan serta dengung nyanyian avant-garde dari ponsel salah satu mekanik. 

Mad Monkey bukan tim besar tapi memiliki orang-orang kompeten dengan segala keunikannya. 

Team principal—Bos—mereka adalah Owen Hawthorn, seorang mantan engineer F2 yang dipecat karena terlalu eksperimental. Dia suka ngoprek hal yang ga perlu sehingga bikin team principal memecatnya.

Owen sebenarnya memiliki bakat bagus, hanya dia bukan berada di lingkungan yang tepat. Dia sadar itu, makanya Owen mendirikan Mad Monkey. Dia nyari bakat-bakat luar biasa yang ga dilihat oleh orang lain. 

Salah satunya adalah Gerard McAllister. Seorang pembalap GT4 yang Owen intai sejak di Australia. Gerard punya insting bagus dan gaya balap agresif yang cukup presisi. Owen yakin cowok kelahiran Texas itu cuma perlu disiplin aja.

Awalnya memang agak susah mendisiplinkan Gerard sampai Owen berhasil rekrut seorang race engineer bernama Hunter Vale. Lelaki yang kalem dan agak pendiam itu bisa bikin Gerard jinak. Meski kadang mereka berdua suka ribut sendiri.

Lalu ada pria Italia agak gila yang suka teriak marah-marah sebagai chief mechanic. Namanya Marco de Luca. Dia sering banget teriak “Mamamia!” pake gaya Super Mario. Terlepas dari keunikannya, keterampilan tangannya ga perlu diraguin. Semua mekanik Mad Monkey bakal nurut sama dia.

Owen juga punya Keisha Raman yang jago soal strategy analyst dan Sven Karlsen di bagian data engineer.

Mad Monkey ga pernah kekurangan bakat. Mereka cuma kurang duit. Karena itu waktu Max Vorstein bersedia jadi sponsor, Owen ga keberatan meski syaratnya dia harus nerima cucu Max di timnya. Mad Monkey masih punya tempat kosong buat orang kaya. Atau selalu punya?

Yang jelas, pagi itu Owen memerintahkan para mekanik untuk membersihkan garasi Mad Monkey yang penuh oli, debu kampas rem sama potongan karet bekas ban. Jejak sepatu dari gemuk juga bikin lantai garasi lebih chaos.

Owen cuma duduk-duduk santai di depan layar sambil nyeruput kopi coklat. Biasanya dia minum americano, tapi karena hari ini akan ada anak baru yang bikin Mad Monkey punya harapan buat maju, dia tambahin coklat ke espresso.

Gerard baru aja datang pake jersey tim yang berwarna hitam-kuning. Dia memperhatikan semua kru Mad Monkey yang mendadak jadi cleaning service semua.

Dia menghampiri Owen yang lagi jadi mandor. “Whassup, Bos?” kata Gerard.

“Oh… Gerry! Tolong rapiin kertas-kertas itu!” Owen nunjuk tumpukan kertas berisi data telemetry yang berserakan di lantai.

“Buat apa?” tanya Gerard sambil terus jalan menghampiri Hunter yang lagi beresin baut sama kunci inggris yang sebenarnya ga pernah dia sapa sama sekali selama di garasi.

“Lu ngapain, Hunter?” tanya Gerard heran sambil kucek mata.

“Lu ga tahu kalau anak emas Owen bakal datang hari ini?” Hunter menjatuhkan kotak berisi baut ke lantai pelan.

“Maksud lu, orang Jerman itu?” Kening Gerard mengernyit.

Hunter mengangguk. “Lu jangan norak kalau ketemu orang kaya, ya! Jangan kaget kalo dia nanti ga bisa apa-apa,” bisik Hunter.

Gerard cuma naikkin kedua alisnya terus duduk di sofa, ikut mandorin para mekanik yang sepertinya bentar lagi bakal selesai. Bukan karena garasi udah kinclong tapi karena mereka udah capek.

Gerard melirik meja. Tangannya langsung meraih dokumen yang ada di sana. Terpampang wajah seorang cowok dengan data-data penting di sampingnya.

“Corey Vorstein?” Gerard memandangi foto itu agak lama kemudian beralih membaca informasi.

Gerard mengembuskan napas pelan. Cowok di foto itu jelas ga punya aura orang kaya dari lahir. Justru wajahnya kayak orang yang kenyang hidup menderita tapi ga pernah cukup.

“Menarik…,” gumam Gerard setelah membaca semua informasi dari dokumen itu.

***

“Gimana hari pertama lu di Inggris sana?” tanya Helen di layar ponsel Corey. 

Helen kelihatan lagi pake topi baseball, matanya nyipit karena silau, muka sama leher keringetan, ketek basah. Sesekali kamera berguncang saat Helen mindahin beberapa bibit bayam di polybag.

“Capek,” kata Corey singkat. Dia lagi tengkurap di kasur hotel. Dia menenggelamkan wajahnya ke bantal. Melihat Helen yang berantakan seperti itu membuatnya sedikit malu pada diri sendiri. Entah kenapa, tapi Corey suka melihat Helen yang seperti itu. 

James duduk di sofa, melihat langit London sore yang mulai teduh. Pura-pura ga denger omongan orang yang lagi pacaran.

“Lu udah makan?” tanya Helen. Dia kelihatan menepi, berteduh di bawah pepohonan sambil duduk dengan lutut ditekuk.

Corey ngangguk. Cuma matanya aja yang ga terhalang bantal. “Lu lagi sibuk, ya?’

“Menurut lu?” Helen meletakkan ponsel di paha kemudian membenarkan kuncirannya.

Sorry, deh, kalo gue ganggu.” Corey melihat ponselnya tanpa ngedip.

“Kalo ngeganggu ga bakal gue angkat.” Helen memegang kembali ponsel. Wajahnya terlihat membesar memenuhi layar.

Lihat selengkapnya