SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #9

Season 2: DUA

James telah berada di restoran klasik itu selama kurang lebih lima belas menit. Interiornya mewah dengan perabotan ala eropa abad pertengahan. Sebuah piano besar berada di tengah ruangan. Lengkap dengan biola dan cello yang berdiri tegak pada penyangganya.

Harusnya ada penampilan musik klasik di sana setiap malam. Tapi malam itu adalah pengecualian. Seseorang mengatur agar tidak ada musik. Seseorang yang punya cukup uang untuk mengatur semuanya.

Ketika seseorang datang, James yakin kalau dia adalah orang yang ditunggu-tunggu.

Para pelayan yang berpakaian rapi dengan jas dan vest hitam menunduk menyambutnya. Seorang pria tua kaya raya yang dari penampilannya saja orang bisa menduga kalau dia adalah golongan old money. 

Pakaiannya sederhana. Kemeja putih, jas marun dan celana hitam dengan sepatu hitam mengkilat. Tapi dari merk terkenal yang harganya overprice menurut rakyat jelata. Rambut penuh uban yang ditata rapi. Meski keriput tak bisa disembunyikan tetapi wajahnya terlihat segar.

Dia berjalan seperti seorang pensiunan model menuju James.

“Jadi… gimana?” tanya pria tua berkacamata hitam itu. Dia baru saja duduk di hadapan James yang sedikit jengkel karena pria tua itu ga berbasa-basi dulu. Mirip cucunya.

Pria tua itu membawa sebuah tongkat kayu yang mengkilat. Tongkatnya sederhana tapi semua orang tahu kalau itu bukan tongkat murah. Meski tubuhnya masih segar dan cara berjalannya masih senormal pria tiga puluh tahun, tapi pria itu menggenggam tongkatnya. Seolah itu adalah sebuah tongkat komando. Setiap orang harus segan padanya.

James ingin menyangkal wibawa pria tua itu dan tongkatnya tapi dia ciut juga. Kharisma Max Vorstein terlalu jauh untuk dijangkau. James benci mengakui itu. 

Keluarga Vorstein memang punya aura yang kuat untuk membuat orang nurut. Termasuk Corey. Biar bagaimana pun, itu memang kenyataan. Agaknya itu juga adalah genetik, karena Reinhard punya aura itu juga.

James berdehem sebelum menjawab pertanyaan Max, “Lancar. Corey sudah menyesuaikan diri dengan tim. Dan mobilnya, tentu aja. Minggu depan kami akan terbang ke Uni Emirat Arab.” James menyesap wine yang sudah disajikan pelayan sejak sebelum Max datang.

“Kamu yakin dia berbakat seperti Rey?” Max menatap tajam James.

James mengangguk mantap. “Dia … meski wajahnya tidak mirip Rey, tapi … deep inside, he is 100% Rey.” James menuangkan wine ke gelas Max.

Max menggoyangkan cairan merah itu di gelasnya. Kemudian ia meneguknya sedikit hanya untuk memastikan itu adalah wine terbaik yang restoran itu punya.

“Kapan kami bisa bertemu?” tanya Max yang membuat James hampir tersedak.

Lihat selengkapnya