SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #12

S2: LIMA

Cuaca Bekasi malam itu membuat siapa pun berkeringat. Awan-awan yang tebal itu menghalangi langit tapi tidak menurunkan muatannya. Angin yang biasanya lewat di malam hari entah pergi kemana.

Helen menyeret kipas angin dari kamar Helmy ke kamarnya. Kipas di kamarnya rusak. Jadi Helen menukarnya dengan kipas sang abang yang sedang pergi mengantar beberapa turis asing menjelajah Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru.

Telunjuk Helen menekan tombol nomor dua. Kipas berputar kencang menyebabkan pergerakan udara. Dia sudah menekan tombol di belakang kepala kipas tetapi kepala kipas tidak bisa berputar. Sialnya lagi, udara bergerak itu tidak ada sejuk-sejuknya di kulit. Helen membuka jendela kamarnya. Kemudian menyalakan laptop untuk menghubungi Corey.

Sorry, ya, agak telat,” katanya setelah panggilannya tersambung.

“Gak apa. Besok jadwal gue dikit.”

Corey terlihat di layar dengan jersey kuning-hitam Mad Monkey. Wajahnya sedikit lelah tetapi matanya masih memancarkan semangat meski kelihatan setengah terbuka.

“Gue beneran minta maaf, Ree. Besok gue masuk pagi jadi mau ga mau harus malam ini,” kata Helen lagi.

“Lu masih aja kebanyakan minta maaf.”

Helen menggigit bibir kemudian tersenyum. “Sor—oke. Jadi, lu udah baca email, kan?”

Corey mengangguk di seberang sana. Di belakangnya terlihat sofa kecil yang dipenuhi kaus, jersey, topi dan pernak-pernik Mad Monkey.

“Menurut lu gimana? Setuju?” tanya Helen langsung ke intinya.

“Programnya gue setuju. Tapi lokasinya? Apa ga kejauhan?”

Helen melipat bibirnya ke dalam. Tante dan keponakan kayaknya punya jalan pikiran yang sama.

Its worth it. Lu tahu kalau itu daerah hijau di peta, kan? Peluang kita untuk berhasil di sana besar. Apalagi kalau dimulai dari sekarang. Daerah itu ga akan terdampak bencana. Kita cuma perlu menyadarkan mereka kalau mandiri pangan itu perlu.”

Corey melipat tangan di meja. Melihat ke kamera tanpa berkedip.

“Gimana?” desak Helen.

“Oke.”

Ada jeda sejenak. Corey menegakkan badannya.

“Kalau lu siap capek bolak-balik ke tempat itu.”

“I’m ready, Sir,” ucap Helen yakin sambil hormat. Rambutnya yang tergerai tertiup kipas angin yang tiba-tiba aja muter ke arahnya.

Corey tertawa di ujung sana.

Helen buru-buru menyingkirkan rambut dari wajah. “Di sini panas,” katanya setelah merapikan rambut.

“Di sini lebih panas.”

Corey masih terlihat menertawakan pacarnya.

“Gimana media day? Lancar?” tanya Helen.

“Gitu deh….”

“Semoga semuanya lancar, ya, Ree. Race day gue nonton lu, kok.” Helen tersenyum cerah.

“Gue kangen lu.”

Helen membeku. Dia ga menyangka kata-kata itu bakal keluar dari Corey. Dia ga tahu harus bilang apa. Tiba-tiba aja pikirannya kosong. Dia berpikir keras.

Break season lu pulang, kan?” Itu kata-kata pertama yang muncul di pikiran Helen. “Miss Molly juga kangen sama lu.”

Corey menggeleng pelan. Menunduk. Raut wajahnya mendadak suram.

“Om James bilang Opa mau ketemu gue.”

“Oh….” Cuma itu yang berhasil lolos dari mulut Helen. Vorstein? Sekarang Corey jadi lebih memprioritaskan Vorstein? Ga heran Ms. Molly masih kesal. Vorstein sudah merebut Corey. 

Dia berdehem sebentar. “Lu mau cerita keusilan lu hari ini?” Helen berharap dengan pengalihan ini ekspresi muram di wajah Corey terangkat. Dia ga mau membuat pacarnya merasa bersalah atau terbebani. 

Corey tampak berpikir. Dia melihat ke atas sejenak kemudian berkata, “Ya… gue nendang kaki salah satu bocah….”

Kesuraman itu menghilang perlahan. Usaha Helen berhasil. Mereka saling cerita kejadian yang menurut mereka berkesan tanpa terlewat hingga larut. Hingga lupa kalau sekarang mereka terpisah zona waktu. 


***

Setelah menghabiskan dua bulan di London dan lima minggu di Abu Dhabi, akhirnya hari itu tiba. Hari pembuktian bahwa pilihannya untuk pergi bukanlah kesalahan. 

Corey menatap driver-driver tim lain yang masih bocah. Usianya mungkin sekitar 15-17 tahun.

Dia menatap dirinya sendiri dari pantulan helm di tangan kemudian melirik Gerard yang ga peduli soal semua hal kecuali tidak kalah dari bocah-bocah anak konglomerat itu.

You see him? The one with number 10? Kamu lihat yang nomor 10?” bisik Gerard pada Corey. “Dia yang paling songong. Serahin dia sama gue. Lu awasin Fabian si nomor 46.”

Corey mengangkat bahu. Matanya menyipit karena terik matahari. “Whatever,” katanya. 

Dari Free Practice hingga kualifikasi kemarin, nomor 46 memang suka ganggu dengan nyalip terlalu dekat atau sengaja melambat di depan Corey. 

Lihat selengkapnya