SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #13

S2: ENAM

Hujan yang sedari pagi mengguyur Jabodetabek tidak lantas membuat orang-orang kembali bergulung di balik selimut. Kota tetap sibuk dengan orang-orang yang berlalu lalang dengan payung-payung bermekaran. Di jalan, sebagian para pengendara motor mengenakan jas hujan mereka rapat-rapat. Sebagian lagi menepi di depan ruko-ruko yang kosong. Saling berdesakan satu sama lain untuk berteduh di teras ruko dan membiarkan motor mereka mandi.

Padahal Indonesia hanya memiliki dua musim. Panas dan hujan. Tapi masih banyak rakyatnya yang tidak memiliki payung untuk keluar kala hujan. Atau jas hujan. Seringkali mereka memadati fasilitas umum untuk berteduh menunggu langit selesai menangis.

Helen baru saja keluar dari Dinas Pertanian Bogor ketika hujan mulai surut. Udara terasa lebih dingin dari kota Bekasi. Sesekali terdengar gelegar guntur di langit. Helen baru sadar kalau sedari tadi tidak hanya suara hujan yang menghiasi udara kota. Dia melirik sekeliling, mencari mobil minibus silver berplat B.

Bangunan kecil bercat putih itu dikelilingi tembok dengan pagar besi. Tembok cat tampak kusam karena sisa-sisa korosi pagar yang larut bersama hujan. Memberi kesan tua dan tak terurus secara alami. Hanya plang nama di atas gerbang yang terlihat masih baru dan mengkilat. Menandakan bahwa masih ada kehidupan di dalamnya. 

Gerimis masih turun. Helen membiarkan rambutnya yang hitam diserbu ribuan titik air selagi menuju ke mobil yang ternyata parkir di dekat pos sekuriti. Dia mengetuk kaca depan pelan. Kaca mobil turun sedikit.

“Udah?” tanya Helmy yang sedang merimgkuk di kursi sopir.

Helen membuka pintu dan langsung duduk di samping abangnya.

“Beres?’ tanya Helmy lagi. Wajah adiknya ditekuk. Jelas bukan sesuatu yang baik.

Helen menunduk, merapatkan kepala ke dashboard. “Ga bisa, Bang!” katanya frustrasi.

“Kenapa lagi?” tanya Helmy. Dia sudah muak bolak-balik mengantar Helen ke tempat itu. Selalu ada aja yang kurang. Adiknya memang kurang berpengalaman dalam urusan birokrasi. 

Awalnya mereka kembali karena RM belum punya NPWP. Maka Helen mondar-mandir ke dirjen pajak. Kemudian mereka bilang kalau di proposal yang Helen bawa, anggaran dan sumber dana tidak jelas. Padahal tertera dengan sangat terang benderang.

Saat itu, Helmy meminta saran dari Mr. Matt yang bilang kalau terkadang, ijin itu ga gratis. Helen menyelipkan sejumlah uang di amplop, di antara dokumen RM yang dikirim. 

Nyatanya, mereka masih mengembalikan persyaratan Helen karena surat rekomendasi dari desa tujuan tidak ada.

Maka Helmy dan Billy—alumni Sintas yang juga volunteer RM—pergi ke sebuah desa di kaki gunung Salak untuk mendapatkan tanda tangan dan cap kepala desa.

Sekarang, apalagi yang diperlukan? Duit lagi?

Helmy menatap kaca depan mobil yang mulai diserbu kembali curahan air. Dia menarik napas, mencoba tenang. Di sampingnya, Helen sedang meremas-remas proposal.

“Bang… susunan pengurus RM harus dirombak.” Helen mendongak, menatap abangnya dengan mata sedikit berair.

“Ada yang salah gitu?” Kening Helmy berkerut. “Kenapa, sih, dipersulit terus?” Embusan napasnya terdengar kasar.

“Gak mengada-ada, Bang.” Helen menarik napas. Diamatinya struktur kepengurusan RM. Sebuah tawa kecil lolos. Tawa yang sedikit getir bercampur sesal. “WNA ga boleh jadi pengurus NGO lokal,” ucap Helen tercekat.

“Maksud lu?” Helmy memandang adiknya sejenak. Kemudian dia menyadari satu hal.

Corey sekarang adalah warga negara Jerman.

Helmy menstater mobil dan segera mengeluarkannya dari parkiran Dinas Pertanian. Wiper dinyalakan. Suaranya terdengar berdecit-decit di antara hujan yang kembali deras. 

“Tiap ke sini hujan mulu,” kata Helmy lebih kepada diri sendiri. Dia tidak mengharap reaksi Helen. Adiknya pasti lagi kesal setengah mati. Pada Dinas Pertanian yang tidak mengeceknya sejak awal dan pada Corey. 

Lihat selengkapnya