SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #14

S2: TUJUH

“Baru bangun?”

Helen mengucek mata. Diliriknya jarum pendek jam dinding menunjuk angka tujuh.

“Ga latihan?” tanya Helen.

“Males.”

“Kenapa?” Helen berusaha membuka matanya penuh. Tapi rasanya terlalu berat. Tenaganya tidak cukup mengangkat kelopak mata. 

“Kemarin Opa datang.”

Opa? Oh! Mata Helen langsung membulat. Max Vorstein, orang yang paling tidak ingin Corey temui malah menemuinya?

“Lu… gapapa?” Helen melihat Corey baik-baik di layar ponsel. Dia baru sadar kalau wajah Corey suntuk banget.

“I’m okay. Tapi jadi males ngapa-ngapain.”

“Apa dia bilang sesuatu sama lu?” tanya Helen. Terlihat Corey menggeleng di layar. “Lu yakin baik-baik aja?”

“Gue cuma belum bisa terima dia, Hel.” 

Helen menarik napas. “Ga apa-apa, Ree. Pelan-pelan aja. Kalau pun lu ga bisa terima selamanya juga, bukan salah lu.” Dilihatnya Corey hanya mengangguk pelan.

“Gimana RM?”

Jantung Helen mendadak bekerja lebih cepat. Helen memang ingin curhat soal perizinan yang belum rampung. Betapa dia stres banget bolak-balik terus ke Dinas Pertanian. Dan satu hal penting yang akan menyakiti Corey—harus keluar dari kepengurusan NGO yang dia pertahankan. 

“Ada masalah?”

Helen memejamkan mata, berusaha menenangkan detak jantungnya. Juga berusaha merangkai kata-kata yang harus disampaikan pada pacarnya. 

“Ada masalah regulasi,” kata Helen. Suaranya hampir hilang di ujung kata-kata.

“Regulasi? Apa?”

Helen menarik napas. “Pengurus RM….” Helen menggigit bibir tanpa sadar. “.... ada perubahan sedikit di susunan pengurus.”

“Why?”

Niat Helen tadinya memang mau bahas kepengurusan RM yang harus dirombak. Tapi karena Corey cerita habis ketemu Max Vorstein, Helen ga mau membuat beban pikiran Corey bertambah. Jadi Helen menelan semua hal yang sebenarnya ingin dia katakan.

Seseorang yang harus kehilangan apa yang dia pertahankan selama ini. Ironisnya, itu terjadi karena orang itu ingin mengembangkan apa yang dia pertahankan. Kenapa harus Corey?

Nyali Helen makin ciut untuk cerita.

Helen menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. “Kita ga harus kayak gini, Ree,” bisik Helen.

“Maksudnya?”

“Kita bisa cari jalan lain. Lu ga harus jadi Vorstein dan balapan. Lu bisa pulang, tetap jadi founder RM dan kita cari cara untuk mencari donatur.”

Lihat selengkapnya