SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #17

S2: SEPULUH

Kualifikasi UAE4 Series ronde terakhir di Lusail International Circuit, Qatar.

Owen membuang gelas kertas kopi yang telah kosong ke tempat sampah terdekat. Dia melihat timnya sedang sibuk. Sven dan Keisha sudah siap-siap dengan headset yang telah terpasang di depan layar. Mata mereka ga lepas dari grafik dan angka-angka yang ada di sana. Marco dan beberapa mekanik sibuk memasang sayap depan mobil Gerard. Hunter dan James sedang memberi beberapa prakata untuk driver mereka masing-masing.

Beberapa tim lawan telah selesai dengan mobil mereka dan mengembangkan payung untuk melindungi kokpit dari matahari gurun yang tidak ramah untuk manusia subtropis.

Owen mendekati Corey dan Gerard setelah melihat James dan Hunter bergabung dengan Sven dan Keisha. Ditepuknya bahu kedua anak muda itu pelan. “Do the best, kids! Masa depan Mad Monkey ada di tangan kalian, katanya sambil menganggukkan kepala.

Corey dan Gerard menuju pit di mana mobil mereka parkir. HANS sudah di pundak masing-masing.

Gerard celingak-celinguk sambil menghabiskan minuman isotoniknya. Dia mengamati keadaan pit tim lain. “Joseph ngeliatin kita,” kata Gerard.

Corey melirik tim Black Bull. Yang Gerard katakan tidak bohong. Joseph berdiri di belakang mobilnya, menatap tajam mengekor mereka.

“Jangan-jangan dia punya dendam sama lu.” Gerard menyenggol bahu Corey pelan.

Corey tidak menghiraukan Gerard. Dia menghampiri Marco yang mengasongkan helm dari jauh.

“Mobil oke. Dua-duanya,” ucap Marco sambil tersenyum senang. Artinya mobil memang benar-benar sedang dalam keadaan terbaik.

“Thank you,” kata Corey. Dia memasang earphone ke telinga. Kemudian menaikkan headband kecil yang sedari tadi ada di kening ke kepala. Berikutnya balaclava dipasang dan terakhir memakai helm dengan benar.

Corey dan Gerard naik ke mobil untuk masuk kokpit. Nicky menyerahkan sarung tangan dan steer wheel.

Para pembalap mengambil posisi di grid.

Ketika green flag berkibar, mereka perlahan melaju zig-zag untuk memanaskan ban. Mencari panas yang pas agar ban mereka mencengkram aspal.

Corey baru dapat dua lap ketika radionya bunyi.

“Core, pelan dikit. Belakang lu kosong. Kasih jarak lima atau enam detik dengan mobil di depan.”

“Copy.”

Corey mengikuti instruksi James. Dia melambat, menunggu jarak yang tepat untuk mengelilingi trek dengan kecepatan maksimum.

“Sekarang!”

Corey melaju, membuka throttle perlahan tetapi pasti. Dia berhasil melalui sektor satu dengan bersih. Rapi dan mulus. James tersenyum di meja engineer.

Masuk sektor dua, James kembali ke radio. 

“Hati-hati sama Joseph di belakang. Jaraknya makin dekat.”

“Copy that.”

Memasuki T6, Corey melambat. Tikungan itu memang titik paling lambat di Lusail. Corey menarik stirnya pelan.

Lihat selengkapnya