SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #18

S2: SEBELAS

Helmy baru saja datang dengan sekantong camilan dan tiga gelas kopi. Dia membuka jaket dan buru-buru melemparnya ke kamar sembarang. 

“Hel… udah mau mulai, tuh!” teriaknya pada adiknya. 

Tidak ada jawaban. Jadi Helmy melongok ke kamar Helen. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada kamar yang masih rapi. 

Helmy pergi ke belakang, menemui ibu. “Helen kemana, Bu?”

“Belum pulang, Hel. Memang kenapa?” tanya ibu yang sedang menggunting maidenhair yang sudah kepanjangan. Daun-daun hijau yang hidup di pot gantung itu terlihat seperti rambut kribo. 

“Belum pulang?” ulang Helmy ga percaya. “Biasanya kalo Corey balap, dia udah standby depan tv satu jam sebelum mulai.”

Ibu geleng kepala pelan. “Ya, ga tahu. Coba aja telpon adekmu. Siapa tahu dia lupa,” kata ibu. 

“Helen? Lupa sama jadwal Corey?” Helmy menggeleng mantap. “Mustahil, Bu!” Helmy mengibaskan tangan di udara. 

Ketika itu terdengar suara Helen dari depan. 

“Nah, itu adekmu. Panjang umur.” Ibu melanjutkan merapikan tanaman kesayangannya. 

Helmy bergegas kembali ke depan. Dia ngomel-ngomel, “Lu kemana aja? Gue kira lu lupa kalo ini hari terak—”

Helmy tidak meneruskan kata-katanya. Dia melihat seseorang yang tidak biasa. 

“Hari terakhir UAE4 Series,” kata Helen. “Mana mungkin gue ga inget, Bang?”

Helmy tersenyum kikuk. Bukan pada adiknya, tapi pada seorang wanita yang sudah duduk di ruang keluarga. “Sore, Miss,” sapa Helmy. 

“Kamu lagi di rumah, Hel?” tanya wanita yang tidak lain adalah Ms. Molly itu ramah. 

“Iya, nih. Gunung pada ditutup buat pemulihan,” jawab Helmy. Dia menghampiri seorang cowok yang duduk di samping Ms. Molly buat aduin kepalan tangan. Chester.

“Apa kabar lu, Bro?”

“Kayak biasa, Bang,” jawab cowok bermata biru itu. Mereka berdua ngobrol ringan seputar kerjaan masing-masing. 

Helen menyalakan tv. Dipilihnya saluran live streaming untuk UAE4 Series. “Lu beli snack, Bang?” tanyanya melirik kantong besar di meja. Abangnya cuma mengangguk kemudian ngobrol lagi sama Chester. 

Helen pergi ke dapur buat ngambil sebotol besar minuman soda dan air putih serta beberapa gelas. 

“Corey peringkat berapa, Len?” tanya Ms. Molly. 

Helen senang akhirnya Ms. Molly mau nonton Corey balapan. Artinya wanita cantik itu mulai peduli lagi sama keponakannya. 

“Dia ada di peringkat dua, Miss,” jawab Helen antusias. 

“Dia bisa jadi juara?”

Helen manyun sebentar. “Hari ini Corey start di P34. Kayaknya sulit buat menang,” jawab Helen murung. 

“P34…?” tanya Chester ga percaya kalau sepupunya harus mulai di posisi terakhir. 

“Di kualifikasi, Corey crash. Ada yang nyenggol mobilnya jadi dia harus mulai dari posisi terakhir. Sayang banget. Padahal kalau mulai dari posisi 10 aja gue yakin Corey bisa menang race kali ini,” jelas Helmy. 

Helen diam saja mendengar kata crash. Dua hari lalu jantungnya hampir copot melihat mobil Corey muter dan keluar lintasan sampai nabrak barrier. Sejak itu, Helen rajin berdoa biar pacarnya bisa pulang selamat. Jadi juara atau enggak bukan prioritas. 

Race pertama Corey berhasil finish P2. Race kedua dia berhasil P3. Selisih poinnya dengan Joseph Ocean yang punya poin tertinggi cuma 8 poin. Tapi Joseph mulai dari P12. Joseph harusnya ada di pole position. Karena insiden menabrak Corey, dia kena penalti 5 detik dan posisi startnya diturunkan. 

Sanksi itu adalah pembaruan dari sanksi sebelumnya yang hanya mendapatkan penalti 10 detik. Setelah tim Mad Monkey viral di media, banyak pihak merasa hukuman Joseph terlalu ringan. Investigasi ulang pun dilakukan. 

“Eh, udah mau mulai!” seru Helmy. 

Helen duduk di lantai sambil meluk bantal kecil. Dia ga berkedip melihat nama Vorstein berada paling bawah di layar.

Lihat selengkapnya