SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #19

S2: DUA BELAS

Senin sore setelah kebun binatang tutup, beberapa staff sudah pulang. Tapi beberapa zookeeper tinggal untuk menjaga Carly—seekor jerapah yang sedang hamil tua. Carly sepertinya kontraksi. Staff sudah memanggil seorang dokter hewan untuk membantu.

Biasanya jerapah membutuhkan waktu sekitar 15 bulan di dalam perut sebelum dilahirkan. Tapi Carly baru mengandung sekitar 13 bulan dan 2 minggu. Para zookeeper mengkhawatirkan kondisi janinnya.

Harusnya Helen sudah pulang, tapi Bu Shafira memintanya untuk membantu lahiran Carly. Padahal Helen paling tidak mau melihat mamalia melahirkan. Dia takut. Makanya Helen cuma ngurusin makhluk berbulu di sana. Bayi burung yang rapuh dan terlihat sedikit mengerikan karena botak lebih baik dari melihat seekor mamalia melahirkan.

Namun hari itu, dia terpaksa menyaksikan seekor jerapah melahirkan anaknya. Helen pikir Carly akan duduk berbaring menyisakan lehernya yang panjang saja yang tegak. Nyatanya Carly melahirkan sambil berdiri. Dia melebarkan kaki-kakinya dengan sedikit gemetar.

Meski menyaksikan dari balik pagar pembatas, Helen mampu merasakan tegangnya Bu Shafira dan dokter Edi yang terus memberi semangat pada Carly. Mereka terlihat antusias ketika melihat sepasang kaki keluar dari jalan lahir. Sementara Helen menutup mata rapat-rapat.

Dia baru membuka mata ketika mendengar suara sesuatu terjatuh. Ketika matanya terbuka, seekor bayi jerapah terlihat gemetar berdiri menahan berat badannya sendiri. Sisa cairan ketuban masih terlihat di beberapa bagian tubuhnya yang tampak rapuh. 

“Dia normal,” kata dokter Edi sambil membenarkan posisi kacamata.

“Syukurlah…. Selamat Carly,” ucap Bu Shafira sambil mengusap air di sudut mata.

Mereka keluar kandang mendekati Helen yang terlihat lega.

“Maaf, ya, Len… sudah merepotkan kamu. Sekarang kita boleh lega. Anak Carly terlihat sehat,” kata Bu Shafira. “Terima kasih, ya. Kamu boleh pulang kalau mau.”

Itu adalah kalimat yang Helen tunggu sejak dua jam lalu. “Ah, iya… Bu. Sama-sama. Kalau gitu saya pulang duluan, ya,” ucap Helen.

Bu Shafira tersenyum sambil mengangguk.

Helen bergegas menuju loker. Mengambil tasnya kemudian keluar.

Jam tangannya menunjukkan pukul 20.17. Di gerbang, seorang sekuriti menyapa, “Helen… ada yang nungguin di luar daritadi.”

“Siapa, Pak?” tanya Helen.

“Temen kamu katanya,” jawab sekuriti berbadan tambun itu.

Helen mulai mengingat-ingat apakah dia punya janji dengan seseorang. Tapi rasanya dia tidak punya janji dengan siapa pun. 

Di luar, Helen melihat seorang lelaki dengan jaket parka putih sedang menendang-nendang kerikil. Tampak bosan menunggu.

Ketika lelaki itu menoleh, Helen mematung. Dia tidak bisa bergerak atau berkata-kata.

Lelaki itu berlari menghampiri dan memeluknya dengan keras.

“Corey?” akhirnya suaranya keluar.

“Lu ngapain aja, sih, di dalam? Gue nunggu lu lama banget,” kata Corey. Masih memeluknya.

“Kenapa ga ngasih tahu kalau udah balik?” Helen melepas pelukan Corey. Ditatapnya cowok itu lekat seolah ga percaya kalau sekarang dia ada di hadapannya. 

“Kan mau ngasih kejutan.” Corey nyengir.

Helen pura-pura cemberut. “Tahu gitu gue ga usah lihat Carly melahirkan,” gumam Helen.

“Siapa itu?” tanya Corey penasaran.

“Jerapah.”

Lihat selengkapnya