SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #20

S2: TIGA BELAS

Pagi kedua berada di rumah lagi. Lari mengelilingi komplek tiga kali tidak pernah semenyenangkan ini. Udara belum terlalu berpolusi. Matahari juga masih ramah di kulit.

Ketika Corey memutuskan cukup berlari, gerbang rumahnya sudah terbuka. Sebuah mobil silver terparkir di halaman. Ms. Molly berdiri di dekat tanaman anggrek, melihat bunga-bunga yang kurang terurus. Rumput liar sudah menyerbu taman kecil itu.

Corey mendekati tantenya pelan. Ragu. Dia berhenti ketika jarak mereka tinggal lima langkah.

Ms. Molly masih melihat sekeliling beberapa saat sampai matanya menemukan sepasang sepatu olahraga tidak jauh darinya. Dia mengangkat kepala, mendapati keponakannya tengah berdiri sambil berusaha tersenyum.

“Kamu habis jogging?” tanyanya.

Corey yang mengenakan setelan training kuning mengangguk. 

“Tante ga mau meluk kamu. Pasti bau keringat,” kata Ms. Molly, tertawa kecil sambil menyilangkan tangan di dada. .

Corey ikut tertawa. Kemudian dia membimbing tantenya menuju kursi di teras rumah.

Rumah itu terlihat lebih tua dari umurnya. Bekas rembesan air hujan meninggalkan jejak di sudut dinding. Bekas lumut di pojokan terlihat di antara keramik retak. 

“Kamu… ga mau pulang?” tanya Ms. Molly ketika Corey telah selesai mandi dan membawa dua gelas kopi yang diletakkannya di meja.

Corey menggeleng. “Ini rumahku, Tan. Aku udah dewasa sekarang. Bisa tinggal di rumah ini lagi,” Corey menatap cat rumah yang mengelupas. Sudut-sudut rumah tampak lusuh kurang terawat. Dulu mama yang selalu menyempatkan diri membersihkan rumah meski selalu sibuk pergi ke luar negri. Sementara papa lebih sering merawat taman. Rumah ini begitu hidup ketika mereka masih ada.

Ms. Molly mengangguk kecil. Dia tidak memaksa, hanya memberikan penawaran tulus.

“Tante mau kamu tahu kalau tante enggak marah sama kamu,” katanya. “Tante cuma terkejut karena semuanya terjadi begitu cepat.”

“Maafin aku, Tan. Aku harusnya memang bilang dulu sama Tante,” kata Corey menyesal.

“Selamat, ya. Kamu sudah jadi pembalap junior.” Ms. Molly tersenyum. Ada rasa bangga yang tersirat dari wajahnya.

“Makasih, Tan.” Corey memainkan gagang cangkir di hadapannya. “Tapi… aku ragu kalau bakal lanjut.”

“Kenapa?” Ms. Molly sedikit terkejut. “Bukannya itu hal yang kamu inginkan? Jadi seperti papamu?”

Corey tersenyum kecil. Apa yang dikatakan tantenya tidak salah. Corey kecil pernah bermimpi menjadi pembalap seperti papa ketika melihat piala-piala dan foto kemenangan Rey. 

“Ada hal yang kayaknya bikin aku ragu,” jawab Corey.

“Helen udah cerita?”

Corey terdiam. Helen tidak menceritakan apa pun. Atau belum?

“Hidup ini emang seperti itu, Core. Ada hal-hal yang harus kita lepas demi meraih hal lain. Sayangnya, biasanya hal itu setara. Sama penting.” Ms. Molly mengambil cangkir dan meminum kopi seteguk.

Corey masih diam. Dia tidak tahu apa konteks dari pembicaraan tantenya. Hatinya bingung. Ingin sekali dia bertanya tetapi takut kalau justru Ms. Molly akan bungkam dan merasa omongannya keceplosan. Jadi pada akhirnya Corey mengangguk pelan. Berharap tantenya akan membicarakan hal yang belum tetapi perlu dia ketahui.

“Menurut Tante, aku harus gimana?”

“Rencana kamu sama Helen bagus. Tadinya, tante ragu apa akan berhasil. Tapi melihat kamu balapan dengan baik, sepertinya rencana kalian akan berhasil.” Ms. Molly meletakkan cangkir kembali ke tatakannya.

“Lagipula, kamu masih bisa jadi bagian RM dengan menjadi donatur.”

Corey menyimpan kata-kata Ms. Molly dengan hati-hati di dalam memorinya. Menjadi donatur? Sudah jelas.

Masih bisa jadi bagian RM?

Sepertinya kata-kata itu yang harus di-highlight, di cetak miring dan ditebalkan.

“Donatur?” Corey mengeluarkan kata itu secara spontan.

“Ya, siapa pun bisa jadi donatur termasuk WNA.”

DEG!

Itu dia!

Itu yang belum Helen ceritakan padanya.

Lihat selengkapnya