SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #21

Season 3: Satu

Mansion Vorstein itu bukan sekadar gede, tapi tipe rumah bangsawan industri Eropa. Pilar tinggi, marmer putih, karya seni modern yang harganya bikin hidung mimisan. Letaknya ada di puncak bukit sehingga dari halamannya aja, para Vorstein bisa minum teh sambil melihat kota di bawahnya dengan angkuh.

Parkiran sudah berisi mobil-mobil mewah yang harganya ga manusiawi. Corey turun dari limosin yang Max kirim ke hotel tempat helikopter menurunkannya dan James.

Hari itu James terlihat rapi banget. Pake setelan jas hitam, dasi kupu-kupu, sepatu kulit mengkilap dan rambut yang disisir rapi ke belakang.

Corey juga sama. Minus dasi kupu-kupu. Dia sebenarnya ga mau pake dasi, tapi James memaksa. Rambutnya juga udah di-styling jadi kayak konglomerat mau nikah. Rapi, kelimis, wangi.

Corey jalan masuk bareng James. Beberapa mata tertuju ke mereka berdua. Ada yang sembunyi-sembunyi dan terang-terangan sampai memutar leher hampir kayak burung hantu. Max yang melihat kedatangannya langsung nyamperin. 

Max kelihatan bangga banget dengan cucunya yang baru dia jumpai setelah 19 tahun kelahirannya.

“Mein Champion! This is my grandson!” serunya sambil ketawa khas bapak-bapak banyak duit.

Semua anggota keluarga nengok. Corey cuma ngangguk, kaku, ga nyaman. Sorot mata mereka lebih menusuk mata dari lampu wartawan yang kamis lalu mewawancarainya dan Gerrard.

Dia mengerti bahasa yang diucapkan, tapi males jawab. Meski James sudah menyuruhnya buat ngomong bahasa Jerman, tapi Corey jelas ga mau mengeluarkan kata-kata dalam bahasa keluarga bokapnya itu.

James sesekali bisik-bisik buat bujuk Corey. Membuat Corey terlihat jadi kayak tuan muda beneran.

Padahal Corey dalam hati berkata,“Ngapain gue di sini…?”

Dan dia makin ngerasa ini bukan dunianya. Lampu kristal yang menjulur dari langit-langit, meja yang penuh kue-kue yang diletakkan segitu estetik menjulang ke atas, gelas-gelas ramping dengan kaki panjang, botol-botol champagne yang menurut James harganya bisa puluhan juta sebotol.

Ga ada yang bisa Corey nikmati selain ginger ale yang sebenarnya disediakan buat para bocah SD dan SMP.

“Tau gini gue bawa kunyit asem,” bisik Corey pake bahasa Indonesia pada James yang hampir aja nyemburin champagne-nya.

Ada beberapa sepupu Vorstein yang seumuran Corey, anak dari kakak-kakak papanya. Mereka datang sambil senyum—senyum negara empat musim, dingin, formal, ada pisaunya.

“Oh, you’re Corey. The… Indonesian one.”

“Opa Max talks about you a lot lately. Quite… unexpected.”

Artinya: Kenapa kakek lebih sayang sama elu dibanding kita yang tinggal di sini dan ngomong bahasa Jerman?

Corey cuma jawab pendek, “Ya… makasih.” pake bahasa Indonesia. Bikin sepupu-sepupunya memutar bola mata. Tapi Corey ga peduli. Kalo perlu dia bakal bikin mata mereka muter terus sampai migrain.

James memperhatikan dari jauh, nahan ketawa karena Corey jelas mual sama suasananya.

Di meja makan, Max dudukin Corey di sebelahnya, posisi terhormat. Memperkenalkannya secara resmi pada keluarga. Seperti upacara penerimaan yang sakral.

Para sepupu semakin panas. Mereka sesekali berbisik dengan orang tuanya masing-masing. 

Ada satu tante yang pake setelan ketat LV krem bertanya hal yang menusuk, “So, Corey… do you plan to live in Germany one day? Or will you just… visit when there’s money involved?”

Lihat selengkapnya