Di luar, keluarga Vorstein sibuk menghitung warisan, status, prestise. Tapi di ruangan kecil itu?
Cuma ada nenek tua yang kangen anaknya—dan seorang cucu yang akhirnya disayang tanpa syarat.
Corey mencolek hidungnya sedikit, menahan emosi. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia merasa diterima apa adanya oleh orang dewasa.
“Danke, Oma,” ucapnya lirih.
Oma tertawa kecil, “Finally… a word in German!”
Corey cuma cengengesan. “Tapi jangan berharap aku ngomong banyak, Oma.”
Oma tertawa lagi, pelan. “Rey juga bilang begitu.”
Oma menatap Corey penuh sayang. Kemudian dia berdiri perlahan, jalan pelan menuju lemari kaca kecil di sudut ruangan. Suasana jadi hening—hening yang berat tapi hangat. Corey masih duduk, mengikuti Oma dengan mata yang mulai berkaca.
Oma membuka laci paling bawah. Dari dalamnya, dia mengeluarkan kotak cincin kecil dari kayu tua, warnanya terlihat sudah pudar.
“Come here, Corey.”
Corey berdiri dan mendekat. Oma membuka kotak itu di antara mereka.
Di dalamnya, terbaring cincin sederhana. Emas tipis, desain klasik, dan batu zamrud kecil yang warnanya hijau tua—tenang, dalam, kayak hutan hujan tropis setelah hujan.
Oma mengelus cincin itu. Jemarinya gemetar.
“Ini milik papa kamu.”
Corey menelan ludah. Matanya langsung terpaku ke cincin itu—simpel, tapi elegan banget, dan terlihat personal.
Oma tersenyum lembut. “Rey membelinya untuk melamar pacarnya. But… he was thrown out by Max before he could give it.”
Oma mengangkat cincin itu, memandanginya dengan sayang. “Ini adalah cincin mama kamu. It was meant for her.”