SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #23

S3: Tiga

Awal musim F3 FIA yang diselenggarakan di Australia, Helen terbang dari Indonesia untuk bertemu Corey. Sebagai pacar sekaligus pimpinan Rimbun Mandiri yang baru. Sejak Corey masuk F3, Helen waktunya lebih banyak untuk mengurus RM dan program-programnya. Helen bahkan beberapa kali cuti dari kebun binatang untuk mengurus perijinan dan survei lahan.

Corey berhasil menduduki posisi kedua FREC. Sebuah pencapaian yang membuat Max Vorstein senang dan menggelontorkan bonus cukup banyak buat cucunya. Juga memuluskannya untuk masuk Formula 3 yang dinaungi langsung oleh FIA*.

Dalam sekejap, RM sudah berhasil membeli satu hektar lahan di zona merah—zona yang strategis untuk membuat hutan mini masa depan—di dua lokasi berbeda. Semua itu adalah uang dari Oma yang menyumbang atas nama Corey dan donatur lain yang juga dicolek oleh Oma.

Helen tidak menyesal melepas Corey pergi bersama James lebih lama. Rencana mereka mulai berjalan meski masih jauh dari target. Dia lebih memilih mencoba memperbaiki masa depan orang banyak daripada mengunci masa depannya sendiri.

Ada beberapa berkas yang harus segera ditandatangani donatur utama—Corey. Helen juga punya utang laporan sama pendiri RM itu. Jadi, ya… sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui.

Urusan RM.

Temu kangen sama pacar.

Pelesiran. 

Helen sampai hotel sekitar jam sebelas malam waktu setempat. Koridor hotel sepi. Lampu kuning lembut menerangi hotel kecil itu. Helen menarik koper, dengan celana kargo selutut dan kaos panjang RM warna putih. Rambutnya yang dikuncir kuda sedikit berantakan.

Begitu pintu lift terbuka…

Corey lagi lewat sambil ngucek mata, kelihatan lelah dan cranky. Cuma pake celana putih pendek sama kemeja Mad Monkey yang didominasi kuning telur. Mereka berdua sama-sama freeze.

 “Hi…,” kata Helen datar. Dia jelas banget senang campur kaget. Apalagi melihat Corey yang mukanya suntuk banget.

“Helen?” Corey juga kaget. Tapi mukanya jadi lebih cerah. Dia langsung mendekat dan memeluk pelan, nahan kangen tapi juga malu karena keringetan abis latihan.

“Lu cepet banget sampenya… Gue kira besok pagi.”

“Makanya gue nggak bilang. Mau surprise.”

Corey nyengir kecil, matanya kelihatan lembut banget. Tapi juga keliatan jelas ngantuk parah.

“Ree, kamarnya penuh,” ucap Helen. “Om James bilang lu di kamar 606.”

Corey merebut koper dari tangan Helen. “Iya. Lagi penuh banget. Nanti gue tidur sama Gerard aja. Kamar kita sebelahan, kok.”

“Oke.” Helen senyum kayak anak kecil dibolehin beli mainan favoritnya.

Lift terbuka. Corey mendorong koper Helen ke kamar 606. Helen mengikuti di belakangnya. 

Di depan pintu kamar, Corey menyerahkan kartu kamarnya ke Helen. 

“Gue langsung tidur, ya?” kata Corey.

Helen mengangguk. Ada satu aturan tak tertulis yang mereka berdua setujui. Jangan ganggu waktu tidur. Baik Helen maupun Corey bisa ngamuk kalau kurang tidur akut. 

“Oke. Gue mau langsung mandi,” ujar Helen.

Mereka pelukan sebentar sebelum Corey ngetok kamar Gerard di sebelah. Pintu gak juga gerak. Helen belum masuk. Dia mau nyapa Gerard sebentar buat nitipin pacarnya. Corey ketuk lagi pintu berkali-kali.

“Udah tidur, kali,” bisik Helen.

Lihat selengkapnya