“Kamu lagi ngapain, Hel?” tanya ibu yang melihat anak gadisnya sedang mencongkel-congkel tanah dengan garpu kebun.
“Lahan ini boleh aku pake, kan, Bu?” tanya Helen.
“Kamu mau tanam apa?” Kening ibu berkerut. Biasanya Helen menanam sayur atau pohon di lahan Rimbun Mandiri. Di rumah, Helen hampir tidak pernah menyentuh peralatan bercocok tanam.
“Aku mau coba nanam sorgum, Bu,” jawab Helen sambil menancapkan garpu dan mendorongnya dengan kaki.
“Sorgum?” Ibu bertanya penuh keheranan. “Memang bisa? Cuma satu setengah meter, lho, ini….” Tangan ibu menunjuk lahan sisa di pojokan itu.
Helen menancapkan garpu lagi. Kali ini ia mendekati ibu sambil menyeka keringat di kening. “Ya, namanya juga nyobain, Bu. Siapa tahu berhasil. Katanya perawatan sorgum ga ribet. Terus bisa panen lebih dari sekali tanpa tanam yang baru. Boleh, kan?”
Ibu melihat sekeliling halaman belakang. Di sana ada beberapa pohon cabai dan bunga beragam jenis di dalam pot. Lahan yang Helen garap itu tadinya adalah bekas ruang untuk menyimpan sampah daur ulang.
Tapi kemarin, sampah-sampah itu dibawa ke bank sampah. Para pemuda baru saja mendirikan bank sampah beberapa hari lalu. Helen ikut serta mengurus dan mensosialisasikannya. Dia juga yang membujuk ibu dan bapak untuk menyingkirkan sampah berupa plastik dan botol kaca yang menumpuk di halaman belakang.
Ibu menatap anaknya dengan lembut. “Boleh, Len. Tapi nanti kalau panen, ibu mau sorgumnya.”
Helen mengacungkan ibu jari sembari tersenyum. “Beres, pokoknya, Bu. Pake bagi hasil. 70 buat yang kerja, 30 buat pemilik lahan.”
“Kamu, tuh… kayak yang nanam ratusan meter aja,” ujar ibu. “Ya udah, terusin. Ibu mau masak dulu.”
Helen mengangguk. Matanya mengekor ibu yang terus bergerak ke dalam. Kemudian dia meneruskan pekerjaannya, memastikan tanah itu tidak terlalu keras untuk ditanami sesuatu.
“Hel… besok jadi?” tanya Helmy yang datang dengan dua gelas es teh.
Helen menoleh, melihat es teh dan menghampiri abangnya.
“Jadi. Sharon mau ikut. Abang juga?” Tangan Helen mengambil satu gelas dari tangan Helmy. Abangnya cuma terlihat mengangguk mengiyakan.
Helen mengaduk es tehnya sambil memperhatikan tanah yang sudah ia garap. Seekor cacing muncul dengan kulit merah muda pucat, menggeliat kepanasan kemudian kembali menyusup ke balik tanah.
“Gue dapat tawaran ngajar di Sintas,” ucap Helen.
“Ngajar?” tanya Helmy ragu. Helen bukan tipe yang mau jadi pengajar sekolah.
“Cuma akhir pekan. Sintas baru buka sekolah alam buat jenjang sekolah dasar.” Helen menarik napas. “Ngajarin mereka buat dekat sama alam. Bukan ceramah di kelas.”
Helmy meneguk minumannya kemudian menoleh pada adiknya. “Lu mau?” tanyanya dengan alis terangkat satu.
Helen memandangi embun-embun yang menempel di gelas kaca. “Menurut lu gimana, Bang?”
“Lu udah mikirin kelebihan sama kekurangannya dibanding kerja di kebun binatang?”
Helen mengangguk. Jika dia menerima tawaran itu, maka waktunya untuk RM akan lebih banyak. Dia bisa lebih fokus mengelola RM. Sementara kekurangannya cuma satu. Gajinya ga segede di kebun binatang.
“Tapi itu masih lama, sih. Tahun ajaran baru. Mr. Matt cuma mau mastiin aja apa gue mau, soalnya nyari guru buat sekolah alam agak susah,” jelas Helen sambil menggoyangkan gelas.