SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #26

S3: Enam

Corey keluar pagi-pagi buta menuju markas Mad Monkey yang hanya berjarak satu kilometer dari flat James. Dia memakai setelan training panjang dengan tas tersampir di bahu. Topi hitam bertuliskan huruf H yang dibordir bertengger di kepalanya. Corey membeli topi itu bukan karena merek dengan logo kereta kuda itu terkenal. Dia membelinya untuk pamer pada dunia kalau dia sudah punya pemilik dengan inisial H.

Tangan Corey sudah bersiap untuk scan jari di pintu masuk kaca, tapi pintu itu sudah terbuka. Dia melangkah masuk, menyusuri ruangan kosong yang lengang, dingin dan gelap. Lampu-lampu koridor masih mati. Berarti yang ada di dalam paling cuma sekuriti yang sedang mengecek keadaan. 

Namun, kaki Corey berhenti melangkah tepat di depan pintu kaca ruang gym. Matanya melihat Gerard yang sedang meninju-ninju samsak dengan brutal. 

Hampir aja tawa Corey lepas saat sarung berisi pasir itu menghantam balik Gerard sampai terhuyung ke samping. Tapi wajah Gerard yang tetap kaku dan bukannya kesal malah langsung membekukan tawa Corey. Di area gym yang bahkan lampunya tidak Gerard nyalakan, Corey bisa melihat wajah itu menunjukkan keadaan hati rekan setimnya.

Corey bergerak perlahan. Meletakkan tasnya di atas sebuah bangku di pojok. Niat awalnya adalah latihan inti. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk duduk-duduk aja memperhatikan Gerard sambil berbalas pesan dengan Helen.

Lima belas menit berlalu. Gerard sudah bercucuran keringat dengan napas ngos-ngosan. Dia berbaring telentang, menatap langit-langit yang mulai dihiasi cahaya temaram dari luar.

Corey menghampiri Gerard, melihat tangannya yang dibalut handwrap. “Aset tuh…! Jangan sampai retak,” ucap Corey yang berhenti beberapa sentimeter di dekat tangan Gerard yang masih terkepal. Ada bercak merah menodai handwrap putih yang membalut Gerard.

Gerard memalingkan wajah. Kemudian menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Dadanya masih turun naik meski sudah melambat. “Ngapain lu pagi-pagi udah ke sini?” Dia bangun, duduk menekuk lutut.

“Gue punya julukan si paling rajin. Masa lu ga tahu?” Corey meninju samsak sekali kemudian jongkok di samping Gerard.

“Joseph emang brengsek!” seru Gerard.

“Terus?”

Gerard melirik Corey sebentar. Kata-katanya menggantung di udara.

“Kalau Joseph brengsek, terus Alicia apa?” Corey mengetik sesuatu di ponselnya. 

CARA MENGOBATI PATAH HATI

“She’s a bitch!”

Gerard membuka lilitan handwrap dan melemparnya sembarang sebelum tidur telentang lagi.

“Ger… break nanti lu mau liburan ga?” Corey tidak memalingkan wajahnya sama sekali dari ponsel. Dia terus membaca sebuah artikel daring yang menurutnya masuk akal.

“Kemana?” Gerard menoleh, tampak sedikit tertarik.

“Tempat yang belum pernah lu kunjungi.”

***

Malam minggu yang biasanya Helen habiskan untuk nongkrong di belakang rumah sambil melihat sorgumnya yang udah tinggi sekarang terasa lebih berwarna. Ketika Helen mendengar suara mobil memasuki halaman rumah, dia segera mengenakan hoodie hitamnya dan menyambar tote bag yang tergeletak di kasur.

Lihat selengkapnya