Helen menatap layar dengan pandangan kosong. Perasaannya mengambang di udara.
Tangkapan gambar CCTV itu jelas tidak direkayasa atau berbohong. Dua orang yang tengah mengangkut jerigen pupuk cair itu sudah akrab dengannya. Itu adalah mas Hari dan mang Karman.
Dua pemuda desa yang menjadi target swasembada RM. Mereka adalah yang selalu terlihat paling antusias untuk mensosialisasikan program RM. Mereka juga yang mempermudah ijin program RM di desa Cibening. Sebuah kawasan di kaki Gunung Salak.
Helen memilih desa itu sebagai target karena lokasinya yang terjangkau oleh transportasi tetapi cukup terpencil. Mereka harus pergi ke pasar yang jauh hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahan makanan pokok terbilang cukup mahal untuk ukuran desa imbas biaya distribusi.
Karena itu RM menyewa sebuah lahan untuk dijadikan gudang. Dan Helen mempercayakan gudang itu pada mas Hari dan mang Karman.
“Ternyata itu ulah mereka, Hel,” ucap Chester lesu. Dia masih pakai seragam oren. Baru aja balik dari pencarian seorang bocah yang hanyut di sungai Cisadane.
Helen menggeleng pelan, menunduk. “Thanks, Ches. Kalo kita ga pasang CCTV, kita ga akan tahu siapa yang ngegondol pupuk-pupuk itu.” Diliriknya laporan kertas di meja yang menyatakan kerugian RM akibat kehilangan pupuk cair.
“Lima juta bukan angka yang kecil buat RM, Hel.” Chester menarik diri ke sandaran kursi dan menyilangkan tangan di dada. “Gue ga mau usaha mati-matian sepupu gue sia-sia,” lanjutnya.
Tangan Helen terkepal. Dia menarik napas panjang dan memejamkan mata sejenak sebelum berujar, “Besok, gue ganti kunci gudang dan gue pegang kuncinya sendiri.”
Chester mengangguk. “Sorry, besok gue ga bisa nemenin lu,” katanya.
“Gak apa. Ada Billy sama Alisya yang katanya free jadi bisa nemenin gue.” Helen tersenyum tipis. Jelas masih kecewa karena video yang Chester kasih tadi.
Terdengar suara motor masuk ke halaman. Kemudian berhenti. Helen melongok ke jendela. Helmy baru pulang.
“Eh… elu, Ches. Ngewakilin sepupu lu buat apel malam minggu apa gimana, nih?” tanya Helmy begitu masuk ruang tamu.
Helen geleng kepala denger kata-kata abangnya.
Chester ketawa. “Bisa aja, lu, Bang,” katanya. Kemudian mereka berdua mengadukan kepalan tangan. “Eh… gue pulang dulu, ya!”
“Buru-buru amat lu. Gue baru nyampe,” protes Helmy.
“Gue mau malam mingguan lah, Bang!” seru Chester sambil nyengir. Dia berdiri, ngambil jaket di kursi kemudian pamitan pulang.
Helmy melihat layar laptop Helen yang masih nyala. “Pelakunya ketemu, Hel?”
Helen sudah ada di luar. Duduk di kursi teras rumah sambil bawa cangkir kopi. “Iya… pelakunya udah ketemu,” katanya dengan nada tidak senang.
Helmy memutar ulang video dari awal. “Anjir! Bukannya ini Hari sama Karman? Buset… ga amanah banget jadi orang!”
“Iya… gue bodoh banget terlalu gampang percaya sama orang.” Suara Helen mengecil. Suaranya bergetar dan Helmy tahu banget kalau adeknya pasti mau mewek.
“Bukan salah lu, Hel. Di dunia ini emang ada orang-orang yang ga tahu diri,” ucap Helmy.
“Tetep aja gue yang nyerahin kunci gudang ke mereka.”
Helmy mendengar adeknya terisak pelan. Dia nyamperin Helen ke luar tapi berhenti pas Helen ngomong lagi.
“Iya… gue bakal lebih hati-hati sama orang. Ga bakal gampang percaya gitu aja.”
Hening beberapa detik. Helen mengelap ingusnya.
“Lu udah makan?” Suara Helen serak tapi jelas.