Hari ini semangat, ya…. Meski udah jadi juara, lu ga boleh sombong. Ga boleh lengah. Pokoknya jangan sampai mati!
Helen mengirim pesan singkat itu pada Corey pagi ini. Ponsel ia letakkan di samping gelas kopi. Tangan Helen mengambil sebungkus nasi uduk yang sudah ibu beli untuk sarapan. Meski di depan gang ada penjual nasi uduk, tapi ibu lebih memilih berjalan sedikit jauh ke RT sebelah untuk mendapatkan kuantitas yang lebih banyak. Padahal, Helen pernah membandingkan isinya secara head to head dan bedanya cuma dua sendok makan.
Setelah peristiwa pencurian pupuk yang menguras energi dan mood-nya, satu-satunya hal yang membuatnya kembali bersemangat adalah mengetahui kalau Corey berada di puncak klasemen Formula 3. Dia bisa cerita dengan bangga pada para volunteer RM atau pada Miss Molly.
Pacarnya itu telah berhasil mengunci kemenangan telak sejak ronde terakhir di Hungaroring. Ronde terakhir musim ini di Madrid hanyalah ronde untuk menambah poin baginya. Perebutan posisi dua dan tiga antara Gerard dan Joseph yang selama musim ini dipenuhi drama yang membuat Helen kena imbasnya. Jadwal quality time dengan Corey jadi berantakan.
Notifikasi masuk berdering dan menggetarkan ponsel Helen. Tangan kanannya menyuap nasi dan tangan kiri meraih ponsel. Helen tidak memperhitungkan jarak dengan gelas sehingga tangannya menyikut gelas dengan gambar lukisan bunga merah itu hingga jatuh. Kopi berceceran dan gelas beling itu pecah berserakan.
“Ya, ampun… Helen! Kok, dijatuhin?” tanya Ibu yang langsung muncul begitu mendengar bunyi gelas pecah.
“Aduh… aku ga sengaja, Bu,” kata Helen kemudian refleks memungut pecahan kaca. Serpihan tajam menggores kulit hingga darah segar keluar dari telunjuknya. “Aw!”
“Udah biar ibu aja. Kamu minggir dulu sana!” kata Ibu yang telah membawa sapu dan pengki.
Helen menatap pecahan kaca yang berserakan itu kemudian melihat pesan dari layar notifikasi. Sebuah pesan balasan dari Corey terlihat jelas.
Gue bakal pulang hidup-hidup, Hel. Tenang aja, gue bakal balik….
***
Corey menahan napas saat hidung mobilnya melahap tikungan Valdebebas pada kecepatan 240 km/jam. Tepat saat bannya menyentuh sambungan aspal jalan raya, bagian belakang mobilnya menyentak—snap oversteer.
Seluruh instingnya berteriak untuk menginjak rem, tapi dia tahu itu berarti maut. Corey justru melakukan koreksi setir secepat kilat, membiarkan ban belakangnya sedikit meluncur di atas aspal licin sebelum akhirnya masuk ke kegelapan terowongan yang bising. Suara raungan mesin di dalam tembok beton itu seolah-olah sedang menertawakan nyawanya yang baru saja hampir melayang.
“Good. Jaga pace,” ujar James dengan suara noise yang mengganggu. “Lo udah juara, jadi ga perlu maksa.”
James benar. Poin Corey musim ini tidak akan bisa disusul oleh pembalap lain. Performa yang mencuri perhatian beberapa tim besar sekaligus. James sudah menerima beberapa tawaran termasuk dari tim F2 Blackbull.