SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #29

S3: Sembilan

Ruang rawat VIP rumah sakit Madrid masih bau disinfektan. Monitor jantung berbunyi bip pelan. Corey duduk setengah tegak, lengan kirinya dibalut, bahu kanannya di-tape, ada memar ungu kehitaman di rahangnya. Satu sisi perutnya ditutup kompres dingin.

Pintu terbuka keras. Helen muncul—rambut acak-acakan, hoodie kebesaran, mata bengkak sisa nangis di pesawat. Dia bahkan belum copot ID bandara.

Begitu lihat Corey hidup, Helen langsung memekik, “Ree….” Suaranya pecah. Dia jalan cepat, tapi langkahnya goyah. Matanya basah lagi. 

Corey refleks mau bangun. “Hel—hey... hey, jangan nangis, gue cuma—”

Helen langsung nyosor meluk Corey erat. Terlalu erat sampai Corey meringis menahan sakit.

Helen menahan napas, bahunya naik-turun. “Gue benci ini… gue gak suka—” 

Helen ga bisa melanjutkan kata-kata. Air matanya turun, deras banget.

Corey cuma bisa mengusap punggungnya pake tangan yang ga cedera.

Helen mundur sedikit, menyadari Corey meringis kecil. Tatapannya jatuh ke perban di bahu Corey, lalu ke goresan di tulang rusuknya.

Wajah Helen pucat. Dia kayak langsung kelempar balik ke masa SMA—ke jurang itu. Corey koma seminggu. Dua bulan di RS.

Rasa paniknya sama. Rasa takutnya sama. Rasa sesak yang hampir aja ga bisa dia tanggung. 

Helen menutup matanya, menahan banjir yang bikin matanya makin bengkak.

“Ree… ini sama kayak dulu kita nyari anggrek hitam. Waktu lu harus terjun ke jurang sama babi itu. Gue ga bisa bertahan semalam lagi kayak dulu, Ree.”

Corey menunduk. “Gue tau. Dan gue… gue nyesel lu harus liat—”

“Nggak!” potong Helen. “Lu ga nyesel. Kalo nyesel, lu ga bakal balik nyetir besok-besok.”

Corey terdiam. Mata coklatnya turun ke tangannya sendiri.

“Lu tau gue terbang dari Jakarta tanpa tidur? Karena Om James cuma bilang ‘Corey had a big one’. BIG ONE, Ree! Itu istilah crash yang berarti bisa mati, kan!?”

Corey coba senyum kecil buat nenangin. “Heh… gue masih di sini, kok.”

“Itu ga lucu, Ree!” suara Helen pecah lagi. “Lu kira gue kuat lihat lu kayak gini terus? SMA hampir mati. Sekarang hampir mati. Besok apa lagi?” Helen menarik napas dalam-dalam, gemetar.

“Gue… gue ga sanggup.” Tangannya mengusap air mata yang memburamkan mata. Helen akhirnya duduk di kursi dekat ranjang, wajah tertutup kedua tangannya.

“Gue tau impian lu. Gue tau kenapa lu balap,” suara Helen pelan tapi patah. “Buat uang. Buat Rimbun Mandiri. Buat mini forest. Buat masa depan. Buat gue….”

Corey mau jawab tapi Helen ngangkat tangan, minta dia diam.

“Tapi… apa gunanya semua itu kalau lu mati sebelum semua terwujud?”

Corey akhirnya bicara, lirih. “Hel… balap itu satu-satunya hal yang gue punya sejak Papa pergi. Itu… satu-satunya cara gue bisa cepet ngumpulin modal buat semua rencana kita. Gue ga bisa berhenti sekarang.”

“Lu tahu? Gue ngerasa bersalah banget. Soalnya gue jadi alasan lu harus mempertaruhkan hidup tiap kali balap. Gue sayang sama lu dan gue ga mau selalu liat lu di antara hidup dan mati.” Helen mengusap wajahnya pelan. Frustasi berat. Dadanya turun naik cepat. 

Helen menatap Corey. Lama. Matanya benar-benar hancur.

“Kalau gitu—” Helen berdiri, napasnya goyah. “…pilih.”

Corey membeku. “Hel—”

“Pilih gue… atau balap.”

Sunyi.

Hanya monitor jantung yang masih bersuara pelan.

Corey menatap Helen seolah dunia hancur di depan mata.

Helen akhirnya mundur selangkah, tangan gemetar. “Gue ga mau lagi nunggu telepon kayak hari ini… gue takut isinya kabar lu ga balik.”

Lihat selengkapnya