SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #30

Season 4: Lights Out and Away We Go!

Hari ini, untuk pertama kalinya setelah tiga hari berturut-turut gerimis dan mendung sejak pagi, cuaca akhirnya cerah. Orang-orang memadati jalan untuk beraktivitas. 

Helen dari pagi sudah ngurusin pupuk dan bibit yang akan dipakai di kebun Rimbun Mandiri. Mulutnya sibuk menghitung karung dan jerigen yang berjejer di gudang samping kantor RM.

Gudang bambu di pinggir kebun itu panas dan berisik oleh suara cangkul, ember, dan obrolan relawan. Anak-anak SMA Sintas yang ditugaskan oleh Miss Molly buat bantuin Helen hari itu. 

Helen berdiri di tengah-tengah, tablet di tangan kiri, daftar distribusi di tangan kanan.

“Kompos area utara jangan ditunda. Tanaman cabai kita udah mulai kuning,” katanya datar. “Bibit singkong kirim sore ini juga. Jangan nunggu hujan.”

Beberapa anak mengangguk cepat. Mereka respek sama Helen dan Rimbun Mandiri. Beberapa bahkan suka ngobrol sama Helen setelah tugas selesai. Cuma buat nanya pengalaman sekolah di Sintas kayak gimana dulu. 

Pergerakan Rimbun Mandiri sedang padat-padatnya. Hari ini mereka sudah panen singkong, sedang menanam kelor dan persiapan mini forest tahap dua. Rimbun Mandiri sudah berhasil membeli lahan baru lagi. Uang Corey—pastinya—sebagai donatur utama sekaligus pendiri Rimbun Mandiri. 

Kemarin Helen hampir aja celaka dicegat sama preman yang gak kecipratan duit jual-beli tanah. Untung ada warga yang melihatnya dan mengusir preman-preman itu. 

Mengurus Rimbun Mandiri kadang menyedot fisik dan mental. Ancaman preman cuma salah satu rintangan. Kadang Helen harus berhadapan dengan birokrasi yang cukup rumit. Bikin muak karena untuk bagi-bagi pupuk organik gratis sama para petani aja harus ada ijin sana-sini. Ga jarang Rimbun Mandiri ga jadi bagi-bagi pupuk karena dimintai sertifikasi pupuk. What the hell!!! 

Helen kadang mau angkat bendera putih tinggi-tinggi. Tapi tiap lihat Corey injek gas 200 km/jam dia simpen bendera putihnya di brankas terus kuncinya dia buang ke kawah gunung. Meski Helen benci itu, tapi kalau dia nyerah… terus apa gunanya Corey mati-matian sintas di sirkuit akhir pekan? 

Gimana nasib Pak Bumi dan Bu Dian kalau dia menyerah? 

Menyerah berarti meninggalkan Corey berjuang sendirian. Ini bukan soal hati. Helen bisa bedain mana urusan pribadi dan banyak orang. Makanya dia bisa menjauhi Corey tapi tetap mengurus Rimbun Mandiri. Itu dua hal yang berbeda. Meski bertautan. 

Tangan Helen sudah kotor oleh tanah. Kaosnya basah oleh keringat. Rambutnya diikat di balik topi Mad Monkey—yep… dia sadar kalo lagi pake topi tim Corey.

Helen bergerak ke area kebun yang masih kosong dan siap tanam. Tapi dia belum yakin kalau udara di tanah udah cukup. 

“Pastiin tanahnya udah gembur. Kalau masih padet kita tunda dulu penyemaian. Cangkul lagi aja….”

Di saku belakang celana kargonya, ponsel bergetar pelan.

Sekali.

Getaran khas notifikasi pengingat. Helen berhenti bicara sedetik. Tangannya refleks meraba saku… lalu ditarik lagi, pura-pura sibuk ngecek karung pupuk.

Dia tahu isinya apa.

Race.

Corey.

Setengah jam kemudian, Helen duduk di bangku kayu pinggir bedengan. Relawan lain tengah sibuk memindahkan bibit. Tidak ada yang memperhatikan. Ponselnya kini di telapak tangan, layar diposisikan miring, setengah tertutup kardus bibit.

Suara komentator disetel pelan. Hampir berbisik. Mobil F2 memenuhi layar kecil itu. Warna-warni. Cepat. Brutal.

Helen menatap tanpa ekspresi. Matanya dingin tapi jarinya sedikit gemetar saat melihat nama Vorstein di daftar posisi.

“Start P10 ya…,” gumamnya.

Di layar, mobil-mobil berdesakan di tikungan pertama. Helen spontan menahan napas. 

Di dunia nyata, Ria memanggil, “Kak Helen! Air buat semaian kurang!”

Helen menoleh cepat. “Iya! Ambil dari tandon belakang, jangan dari sumur dangkal!” Lalu matanya kembali ke ponsel.

Di layar, Corey nyaris diserobot dari dalam sama mobil hitam nomor 25. Helen reflek mencengkeram ujung bangku kayu. Trauma pasca tikungan Valdebebas masih membuat dadanya berdenyut.

“Jangan maksa… jangan maksa.,” katanya nyaris tanpa suara.

Lihat selengkapnya