“Kayaknya gue ga ikut lu, deh, kali ini,” ucap Gerard pada Corey saat rekan timnya itu sedang mengemas koper.
“Terserah lu,” ujar Corey tanpa menoleh. Sibuk memasukkan beberapa oleh-oleh yang akan dia bagikan untuk teman-temannya di Indonesia nanti.
“Lihat ini!” Gerard menyodorkan laptop yang menampilkan videonya yang merayakan podium bareng Corey dan Fabian. Tapi kamera lebih banyak menyorot wajahnya dan Corey.
Corey menoleh sebentar kemudian kembali sibuk dengan barang-barang di kopernya.
“Mereka makin menggila, Core!” Gerard menggeleng membaca komen-komen di bawah video itu.
“So cute… best couple… my fav couple….” Gerard tidak melanjutkan membaca. Kepalanya pening membaca ribuan komentar manis yang memasangkannya dengan Corey.
“Kayaknya lu harus cepetan cari pacar, Core. Fans di luar sana makin ga waras aja lihat kita berduaan!” Gerard menutup laptop dan meletakkannya di meja.
Corey menutup resleting kopernya, mengangkatnya ke pojokan kamar.
“Lu aja yang harus punya pacar,” ujar Corey kemudian meraih ponselnya yang tergeletak di atas kasur.
“Dude, gue udah usaha tiap hari. Belum nemu yang cocok aja,” kata Gerard. “Kalau lu itu ga pernah usaha, Core. Kenapa lu ga move on aja dari Helen?”
Corey diam saja. Antara tidak mendengar perkataan Gerard atau pura-pura ga mendengarnya. Dia sibuk memperhatikan layar ponsel. Sesekali jemarinya bergerak mengetik kemudian kembali memperhatikan layar dengan serius.
Gerard yang merasa dicuekkin akhirnya berbaring di samping Corey.
“Lu ke Indonesia mau ngapain, sih, Core? Kan, Helen masih menghindari lu,” kata Gerard sambil menatap lampu kristal di atas langit-langit kamar megah itu.
“Gue mau terapi, Gerry,” jawab Corey sambil melempar ponselnya ke kasur dan bergerak menuju lemari.
“Terapi apa?” Gerard melirik Corey yang sedang menjejalkan pakaian yang tidak jadi dia masukkan ke dalam koper.
“Oliver bilang gue harus ke tempat-tempat kenangan kami. Dia bilang—”
“Lu harus menumpahkan tangki cinta lu biar bisa move on?” potong Gerard.
Corey mengangguk dan tersenyum simpul. Oliver sang mental performance coach itu memang pernah bilang begitu. Karenanya Corey tidak berhenti mengirim pesan-pesan pada Helen meski tidak pernah centang biru. Dan Oliver menyarankannya untuk pergi ke tempat penuh kenangan bersama Helen.
“Pergi ke tempat-tempat itu dan lakukan hal-hal yang biasa kalian lakukan. Menangis, tertawa… jangan ditahan. Setiap emosi harus disalurkan. Berbahaya jika tetap ditahan dan menumpuk. Kamu bisa meledak. Dan setiap ledakan emosi itu beresiko,” kata Oliver kala sesi terapi beberapa bulan lalu.
Namun, Corey belum sempat pulang karena jadwal tim yang padat. Sore ini pun, sebenarnya Corey pulang ke Indonesia hanya dua hari. Dia memaksa pulang bukan demi apa yang disarankan Oliver semata. Dia pulang untuk menghadiri pernikahan Helmy dan Nia. Helmy bahkan mengirimkan undangan sebulan sebelumnya dan bilang kalau Corey adalah orang pertama yang Helmy undang.
Corey menatap jam antik di dinding. Dia mengambil ponsel dan kopernya. Dilihatnya sekeliling kamar yang lebih mewah dari kamar hotel bintang lima itu. Corey tersenyum miring. Malu pada diri sendiri karena mulai terbiasa dengan kamar Vorstein. Meski dalam sebulan dia hanya tinggal beberapa hari saja di sini.
Corey menghela napas. Pasrah pada takdir yang kadang terlalu lucu untuk ditertawakan. Dia menatap Gerard sebelum melangkah membuka pintu.
Gerard mengikuti Corey keluar kamar mewahnya menuju lorong panjang berlantai marmer dan hiasan lampu klasik di dinding. Dia mengekor Corey, berada sedekat mungkin karena tidak ingin tersesat.
Oma sudah menunggu di ujung lorong. Dia memeluk Corey erat sebelum melepas cucunya yang sedari awal tahun bersedia tinggal di mansion megah itu.
„Pass auf dich auf!“ kata Oma di telinga Corey. Diciumnya pipi Corey kiri dan kanan.
Corey tersenyum dan mengangguk pelan. Diam-diam bersyukur memiliki Oma yang memberikan kasih sayang tulus—alasan Corey untuk mau tinggal di Mansion Vorstein.
Gerard mencium pipi Oma sebelum menyusul Corey menaiki sebuah mobil mewah berbentuk kubus dengan seorang sopir yang menunggu. Laki-laki berambut pirang itu cepat akrab dengan Oma yang baru dua hari lalu ditemuinya.
“Loh… James?” tanya Gerard kaget mendapati James duduk di samping sopir. “Mau ke bandara juga?”
James nyengir sekilas. “Gue mau jagain driver gue biar ga mewek sendirian di Indonesia nanti.” James melirik Corey yang membuang muka kemudian terkekeh.
Mobil melaju menuruni jalan bukit yang berkelok dan membelah kebun-kebun anggur. Di bawah sana, kota Stuttgart terlihat sibuk dengan aktivitas warganya.
***
“Ga salah tempatnya di sini?” tanya James ketika Corey membelokkan mobil silver milik tantenya itu ke halaman kantor kecamatan.