Helen dan Riri baru saja kembali dari survei lahan yang akan menjadi hutan mini RM. Tanahnya terlihat merah dan hanya ditanami pohon singkong. Pemilik sebelumnya bilang kalau tanah itu memang cuma cocok ditanami singkong. Dia sudah berusaha menanam tanaman lainnya tapi gagal.
“PR banget loh, Hel… buat bikin tanahnya subur,” kata Riri yang duduk sambil memegang kemudi.
“Lu bener, Ri.” Helen mengembuskan napas panjang pelan. “Thanks, ya, udah mau nemenin gue,” kata Helen lagi sambil tersenyum melihat teman SMA-nya yang sekarang sering tampil di tv nasional sebagai pembawa acara alam.
“Sama-sama, Len. Gue sebenarnya mau terlibat lebih jauh dengan proyek lu sama Corey. Tapi lu tahu lah gue lagi sibuk banget. Jadi, gue cuma bisa bantu sebisanya aja,” ujar Riri membalas senyum Helen. Dia membenarkan posisi kacamata hitamnya.
“Lu… masih kerja sama sama dia, kan?” tanya Riri.
Helen mengernyitkan kening. “Corey?”
Riri mengangguk. Matanya tetap fokus melihat jalanan yang beraspal tapi sempit. Di kiri dan kanan banyak kebun warga yang sepertinya kurang diperhatikan karena sudah mirip hutan.
“Gue denger dari Chester kalau kalian putus.” Riri melirik Helen dari balik kacamatanya.
Tangan Helen meremas tas yang ada di pangkuannya. Dia mengeluarkan napas tertahan. “RM ga akan jalan tanpa dia, Ri.”
Riri mengangguk dan berusaha tersenyum kecil agar suasana tidak canggung.
“Lu hebat, ya, Len. Bisa ngurus RM sendirian. Gue yakin kalau si pembunuh t-rex yang ngurus, para sukarelawan bakal banyak yang kabur gegara mulut nyinyirnya dia. Apalagi anak-anak Sintas.” Riri tertawa lepas hingga bahunya berguncang.
Helen tertawa kecil. “Mulutnya udah ga senyinyir dulu, kok.”
“Nah, kan… itu pasti gara-gara lu, kan?”
Helen tersenyum dan menggeleng. “Enggak lah. Dia udah dewasa kali, Ri.”
“Lu emang sebaik itu, Len. Udah putus aja masih belain dia.”
“Gue ga belain dia. Emang kenyataannya gitu,” elak Helen.
Riri melirik Helen penuh arti. “Lu masih suka dia, ya? Hayo… ngaku!”
“Apa, sih, Ri?” Helen menggeleng sambil tersenyum lagi. Kali ini sedikit tersipu.
“Helena… Helena… lu tuh dari jaman sekolah ga berubah. Ekspresi wajah lu ga bisa bohong.”
Riri membelokkan setir ke kanan setelah melewati sebidang tanah lapang dimana sebuah sepeda motor bebek hijau parkir di pinggirnya.
“Dari dulu lu tuh selalu care sama sekeliling lu, Len. Tapi lu careless sama diri sendiri. Lu bisa lihat sekeliling 360 derajat. Blindspot lu, tuh… ya, diri lu sendiri. Lu butuh orang lain buat care sama lu….”
Helen mematung. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak dengan kebenaran yang Riri katakan. Dia belum sanggup mendengar hal-hal yang akan menelanjangi dirinya.
“Corey pernah bilang gitu sama gue dan Sharon.”
Helen menoleh cepat ke arah Riri. Melihat gadis yang kini berkulit eksotis itu tanpa berkedip.
“Cepetan cari pengganti Corey, gih!”
Helen menggeleng pelan kemudian pura-pura sibuk dengan ponselnya. Padahal dia cuma sedang sibuk membenahi hatinya yang barusan kena efek gempa omongan Riri.
Tok… tok…
Tiba-tiba dua orang yang mengendarai sepeda motor bebek mengetok kaca jendela mobil.
“Apaan sih?” tanya Riri seraya melihat kaca spion. Itu adalah motor yang tadi terparkir di tanah kosong. Riri ingat benar kalau velg-nya dicat jingga.
“Lu kenal mereka, Len?”
Helen menoleh ke belakang, memperhatikan dua lelaki berambut gondrong yang terlihat mepet ke mobil. Satu orang memakai kalung rantai yang besar, satunya memiliki lengan berotot dengan tato memenuhi tangan.
“Jangan dibuka, Ri. Kayaknya itu preman, deh!” kata Helen tanpa melepas pandangan dari dua orang itu. “Mereka mendekat, Ri… gas terus aja, Ri. Ngebut!”
“Hah? Lu yakin?” tanya Riri sambil melirik spion sesekali.