“It was a great race!” Max merangkul bahu cucunya dan memeluknya pelan.
Corey tidak menghindar. Tidak bisa. Di depan kamera, dia harus menahan diri untuk mendorong pria tua itu menjauh. Kadang Corey merasa mual hanya karena mencium parfum limited edition Max.
Alih-alih di F2 dia bisa memamerkan pacar, justru Max leluasa memamerkannya sebagai cucu kesayangan pada dunia. Sekarang dunia mengetahui kalau dia adalah Vorstein yang itu. Orang-orang mulai memandangnya sebagai pewaris kerajaan Vorstein. Mereka menganggapnya orang kaya sejak lahir, melupakan atau mengabaikan perjuangan Corey yang menyedihkan hingga sampai di titik itu.
Kadang Corey merasa bukan manusia saat kamera-kamera itu menyorotnya. Dia tidak bisa lagi menjadi bocah sakit hati atau cowok dengan mulut nyinyir. Dunianya penuh standard operating procedure yang ketat. Semua uang yang mengalir ke rekening RM dibayar dengan melelahkan bukan karena balap. Corey senang balapan tapi tidak senang dengan birokrasi yang berjalan di baliknya. Politik-politik yang dulu dia pikir hanya ada di dalam pemerintahan ternyata ada di dalam dunia motorsport. Kejutan yang tidak menyenangkan.
“Here’s my boy!” suara lembut Oma menyambut Corey di pangkal tangga. Suara yang menghempaskan seluruh kelelahan rangkaian acara sebelum dan setelah race.
“Kalian sudah makan?” tanya Oma pada Corey dan Max yang berjalan di belakang cucunya.
“Ya, Sayang. Kami sudah makan.” Max mencium kening Oma dan membantunya berjalan memasuki mansion. Mereka tampak seperti pasangan yang saling mencintai selamanya.
“Oh… padahal aku sudah masak nasi goreng untuk Corey. Sayang sekali,” katanya lemah tapi tetap tersenyum di depan suaminya yang terlihat masih sangat sehat.
Corey berhenti berjalan. Dia menoleh ke belakang melihat Oma yang begitu ringkih dalam rangkulan Opa-nya. “Aku masih lapar, kok, Oma.”
Oma terkekeh pelan. “Kalau begitu, ayo… kita makan!” serunya sambil berjalan pelan ke arah Corey.
“Jangan memanjakan Corey, Julia. Biarkan dia makan makanan kita. Lebih baik beristirahat dan biarkan Stuart yang memasak,” ujar Max.
Oma berhenti sejenak, memandang Max dan berujar lembut, “Aku memanjakannya karena kamu hanya bisa memamerkannya pada dunia tanpa bisa membesarkan hatinya, Max.”
Max mengembuskan napas, tidak ingin mendebat istrinya yang sudah terlalu lemah.
“Jangan dengarkan Opa, Sayang. Ayo, ikut Oma!” ajak Oma pada Corey.
Corey menggandeng Oma, memastikan setiap langkahnya menuju ruang makan aman.
“Jangan ambil hati omongan Opa. Dia itu memang keras tapi dia menyayangimu seperti Oma,” ucap Oma saat Corey mulai menyuapkan nasi goreng.
Corey hanya mengangguk patuh. Dia tidak mempercayai kata-kata Oma. Baginya Max tidak penting selama Oma masih ada dan mengasihinya.
“Apakah enak? Stuart bilang kebanyakan kecap manis,” tanya Oma memandang Corey yang makan dengan lahap.
“Enak banget, kok, Oma. Semuanya pas. Kecuali….”
Raut wajah Oma sedikit menegang. “Apa? Bilang saja, nanti Oma perbaiki lagi.”
“Di Indonesia, porsi segini kurang banyak, Oma.” Corey tersenyum lebar. “Kami biasa makan nasi goreng dengan porsi dua atau tiga kali dari ini. Kami menyebutnya porsi kuli.”
“Serius?” tanya Oma tak percaya.