Puncak Rinjani rasanya ga sedingin itu di ingatan Helen. Mungkin karena pendakian kedua ini beda sama pendakian pertama. Kalau pertama kali ke Rinjani bareng Corey, kali ini Helen muncak sama Sharon dan Joel.
Helen menikmati indahnya Segara Anak dari puncak. Beberapa kali foto bareng Joel dan Sharon. Rasanya menyenangkan bisa melihat kedua sahabatnya itu lagi.
Sharon yang memang jadi guide Rinjani sekarang jadi leader mereka muncak. Tadinya dia mau pulang tapi begitu denger Helen mau ke Rinjani via Torean langsung nawarin diri buat nemenin.
Joel baru seminggu ada di Indonesia setelah setahun lebih di Ghaza. Badannya kurus. Terlalu banyak melihat kepedihan yang terabaikan dunia. Dia dikontak Sharon untuk ikut.
Jadilah mereka bertiga reuni di atas Rinjani.
“Gimana kabar Corey, Hel?” tanya Sharon setelah mereka makan mi instan sampai habis. Tenda di belakang sudah didirikan oleh Joel.
Air terjun Penimbungan membuat guruh yang menenangkan tapi bikin suara harus dinaikkan tiap ngomong.
“Baik kayaknya,” jawab Helen sambil menatap sungai di bawah sana. Tangannya memeluk lutut erat.
“Kayaknya?” Sharon menaikkan alis, mencium sesuatu.
“Lu ga tahu kalo Corey jadi driver Formula 2?” sela Joel yang masih nyeruput mi pada Sharon.
“Cieee…. Pacar lu pembalap pro sekarang?” Sharon mengguncang tubuh Helen pelan.
Helen menenggelamkan kepala ke lutut. Dia narik napas panjang sebelum mendongak dan bilang, “Kita udah putus.”
Joel yang duduk di samping kiri Helen keselek mi. Sementara Sharon melongo. Mereka berdua tidak mengharap berita itu keluar dari mulut Helen.
“Kenapa?” jerit Sharon.
“Kapan?” tanya Joel hampir bareng dengan Sharon.
“Ga tau deh… gue takut.” Helen melirik Sharon dan Joel bergantian.
“Jangan bilang Corey kepincut cewek-cewek seksi itu, ya!” seru Sharon sambil melotot.
Helen geleng kepala.
“Lu nemu cowok yang lebih keren dari si pembunuh t-rex?” tanya Sharon.
Helen kembali menggeleng. Raut mukanya perlahan berubah sedih.
Joel yang lebih tenang bertanya, “Lu takut apa, Hel? Corey ga bakal selingkuh. Dia cinta mati sama lu.”
Helen narik napas. Kemudian dia menggeleng lagi.
“Gu-gue takut… Gue takut dia mati,” ucap Helen hampir berbisik.
Sharon dan Joel saling tatap di balik bahu Helen.
“Waktu itu Corey crash. Gue takut banget waktu itu, Shar! Sumpah! Gue takut dia koma lagi kayak dulu. Gue takut dia ga bakal pulang.” Helen narik napas. Dadanya mulai sesak. Gue takut dia ga ada di masa depan gue!