SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #35

Season 4: Lost The Rear

Stuttgart terasa lebih asing dari sebelumnya sejak hari itu. Tidak ada lagi tangan keriput yang menyediakan nasi goreng atau suara lembut dengan aksen Jerman yang menyambut Corey di rumah megah itu. Hanya ada Vorstein.

Makan malam keluarga setelah kepergian Oma adalah siksaan yang tidak jauh menyakitkan dari kehilangan orang yang disayangi.

Corey tidak pernah melihat nisan Mama dan Papa sebab tubuh mereka abadi di Everest. Corey juga tidak membuat nisan untuk perasaannya pada Helen sebab rasa itu masih hidup meski sekarat.

Tapi hari itu ia melihat Oma terbaring di peti dengan wajah damai sebelum peti itu ditutup kemudian dibenamkan ke dalam tanah. Dia baru merasakan pemakaman yang sesungguhnya. Rasa yang membuat kakinya serasa kehilangan grip di tanah.

“So… kapan kamu pindah?” Leonhard membenarkan kerahnya dan memandang Corey yang duduk di seberangnya. Ibunya yang memakai blazer merah tua tersenyum pelan.

“Kamu bilang alasanmu ada di sini adalah Oma. Sekarang Oma udah ga ada,” lanjut Leonhard dingin. Dia merapikan rambut pirangnya yang menutup sebagian wajah.

“Leonhard!” seru Max lantang. “Kenapa kamu bilang seperti itu pada sepupumu?”

Corey meneguk air dan memperhatikan gelasnya yang kosong—sama seperti hatinya. Dia tersenyum miring. “Gue emang mau buru-buru pergi dari sini, kok,” katanya sambil meletakkan gelas di meja dan pergi menuju kamar yang dulu adalah kamar Papa.

Max memukul meja hingga anggota keluarga lain melonjak kaget. “Corey adalah Vorstein! Dia punya hak yang sama denganmu, Leonhard, untuk tinggal di sini. Siapa pun yang tidak suka Corey ada di sini, dia boleh pergi!”

Tangan Max meraih tongkatnya yang disandarkan di kursi. Dia berdiri kemudian meninggalkan ruang makan.

Corey sedang menjejalkan baju-bajunya ke koper saat Max muncul dari pintu.

“Siapa yang mengijinkanmu pergi?” kata Max.

“I don’t need your permission to leave,” jawab Corey tanpa menoleh.

“Your Oma want you to stay, Corey,” ucap Max penuh penekanan.

“Satu-satunya alasan untukku tinggal udah ga ada. Buat apa aku di sini? Biar Leonhard dan yang lain punya bahan cibiran terus?”

“Aku serius. Julia ingin kamu tetap di sini bersama keluargamu.”

Corey membanting kopernya ke dekat kaki Max.

“Keluarga? Opa bilang keluarga?” Tawanya pecah. “Keluarga macam apa yang ga ngasih tahu kalau ada anggota keluarganya sakit keras dan malah nyuruh dia buru-buru balapan? Keluarga mana yang tidak mengijinkan seorang cucu dekat di saat terakhir neneknya cuma gara-gara piala?”

Corey menggeleng frustrasi. “Opa ga pernah menganggap aku bagian dari keluarga. Opa cuma menganggap aku proyek, kan? Kalau aku berhenti balap, Opa akan buang aku sama seperti saat Opa membuang Papa, kan?” Suara Corey meninggi. Semua rasa tidak nyaman selama di rumah itu menggedor-gedor dadanya, mendesak untuk keluar.

“Kenapa Opa ga jadiin Leonhard atau Steward sebagai proyek juga? Mereka ga butuh jadi apa-apa buat jadi Vorstein, kan?”

Lihat selengkapnya