Suasana kafe sedikit lengang ketika Helen masuk. Dia memilih duduk di kursi dekat jendela. Memesan secangkir kopi latte dan kue croissant yang terkenal paling enak di sana.
Helen menarik napas panjang. Mempertanyakan keputusannya untuk datang sejauh ini. Tanpa sadar dia menggenggam liontin silet di dada. Meremasnya dan berharap semua kecemasannya bisa dia singkirkan.
Mata Helen menangkap sesosok laki-laki lewat jendela kafe. Laki-laki itu tampak terlihat rapi dengan kemeja putih dan celana biru dongker. Mata Helen mengekornya hingga lelaki itu masuk dari pintu.
“Siang, Om,” sapa Helen ketika laki-laki itu sudah berada di hadapannya.
“Lama ga ketemu. Apa kabar?”
Helen menyambut tangan lelaki itu. Sebuah jam tangan sport mellilit pergelangan tangannya.
“I’m fine. And you?” tanya Helen.
“Situasi aman terkendali,” ucap pria yang adalah James Jackson itu sambil tersenyum.
Mereka duduk berhadapan. James memesan es americano tanpa makanan.
“Corey apa kabar?” tanya Helen lagi.
“He is….” James tidak meneruskan kalimatnya. “Bukannya kamu ke sini buat ketemu dia? Tanya aja sendiri.” James menatap Helen, menyelidik. Sedikit mengintimidasi dengan caranya melihat.
“Its been a long time….” James menarik napas. Dia tahu benar apa yang terjadi pada dua bocah itu. Sama-sama keras kepala. Dan mungkin James tahu kalau Helen kemari setelah mendengar kabar duka itu.
“Aku… boleh ketemu dia, kan, Om?” Helen memainkan jemarinya di bawah meja.
“Sebagai apa?” tanya James dengan kedua tangan kini di dada.
Helen menggigit bibirnya tanpa sadar sembari berpikir.
Pimpinan RM? Terlalu formal. Pacar? Bukan status yang tepat.
“As a friend?” jawab Helen ragu. Apakah mereka bahkan masih berteman?
“Kamu… udah tahu soal Corey’s angel?” tanya James lagi.
“Corey’s angel?” ulang Helen. Jelas tidak mengerti dengan apa pun maksud James.
“Helen, I just don’t want you to be hurt. Kalau kamu ke sini cuma buat Corey, lebih baik kamu cari alasan lain sekarang.” James menyeruput kopi esnya yang dingin.
Mata Helen bergerak-gerak. Dia punya firasat kurang bagus soal ini.
James mengeluarkan sebuah lanyard dari saku dan meletakkannya di meja. Lelaki bermata hijau itu berdiri. “Sebaiknya kamu pakai jaket gorpcore kalau mau mampir,” katanya datar kemudian pergi pamit meninggalkan kafe itu.
Helen mengambil lanyard itu dan memandang kartu VIP pass di dalamnya. Diusapnya mata yang memanas. Segera Helen mengeluarkan ponsel dan mencari tahu apa yang ingin dia ketahui.
Sebuah video muncul di bagian paling atas dari hasil pencarian.
Corey yang sedang diwawancara setelah kemenangannya di Australia awal musim.
Helen ingat hari itu. Mobil-mobil crash beruntun di tikungan pertama. Corey melintir tapi masih bisa mengendalikan mobilnya dan meraih P1.
“What’s your secret to keep focused on a chaotic situation, Corey?”
“I am thinking of an angel while I need to focus.”