Helen duduk di samping Corey yang masih terbaring tak sadar. Matanya sudah bengkak. Tangannya menggenggam tangan Corey seolah kalau dia melepaskannya, Corey akan pergi.
Bunyi monitor jantung membuat Helen de javu. Kilasan masa SMA itu kembali datang.
Dia melihat rambut coklat itu dengan pandangan yang buram. Harusnya itu adalah momen bahagia karena Helen merasa sudah siap menyaksikan Corey taruhan nyawa di lintasan.
Namun, takdir seolah ingin menunjukkan kalau Helen belum siap. Atau dia memang tidak pernah siap.
Helen menempelkan dahinya di tangan Corey. Berdoa dalam hati agar kesayangannya dapat segera sadar.
“Helen….”
Pintu kamar terbuka. James menenteng roti hangat dan kopi di tangannya.
“Kamu harus makan,” katanya seraya mengasongkan tas kertas di tangan pada Helen.
Helen menggeleng pelan. Dia mengangkat wajahnya dan menyedot ingus.
“Aku ga lapar, Om,” ujar Helen dengan suara sengau.
“Jagain seseorang itu butuh tenaga, Hel.” James meletakkan makanan di meja kecil samping ranjang Corey.
“Dia pasti sangat kesepian dan hancur, ya?” tanya Helen menoleh pada James yang hanya mengangguk.
“Tapi aku belum siap jadi sandarannya, Om.” Helen menunduk, memandang selang infus yang terhubung dengan tangan Corey.
James cuma menepuk pundak Helen pelan. Dia harusnya sedang melihat Corey bahagia karena Helen sekarang ada di sampingnya. Bukannya melihat bocah itu terbaring tak berdaya dan malah membuat jarak di antara mereka semakin jauh.
“Gue harusnya bilang sama Corey dari awal kalau lu datang, Hel.” James mundur beberapa langkah dan duduk perlahan di sofa. “Mungkin kalau dia tahu lu ada, dia bakal lebih kuat.”
Helen menggeleng pelan, kembali terisak. “Bukan salah Om,” katanya lemah.
Pintu kembali terbuka. Helen menoleh. Dia mengusap air matanya yang kembali membanjiri pipi. Seorang pria berkacamata hitam dengan setelan jas rapi menahan pintu. Kemudian seorang kakek berambut perak dengan tongkat muncul. Max Vorstein.
James langsung berdiri dan menghampiri Max.
“Helen… tolong jaga Corey,” ucap James kemudian menggiring Max keluar.
Helen melihat James yang bergegas menutup pintu ruang rawat VIP itu. Rasa penasaran Helen membuatnya perlahan mendekati daun pintu.
“Apa kata dokter?” tanya Max tenang. “Apa dia bisa kembali ke lintasan tepat waktu?”
James meringis dan tertawa sinis mendengarnya.
“Corey belum sadar, Orang Tua!” jawab James sedikit jengkel.
“Jadi… kita harus mencari reserve driver?” tanya Max lagi.
“Max… cucu Anda habis tabrakan dengan gaya lebih dari 40G dan belum sadar. Tidakkah Anda khawatir dengan keadaannya?” James bertanya dengan penuh penekanan, meski dengan suara yang ia tahan karena ingat kalau itu adalah koridor rumah sakit.
Max Vorstein menarik napas sejenak. “How is he?”