SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #38

Season 4: Dodging The Debris

Banjir tahun ini adalah banjir terbesar sepanjang sejarah di daerah itu. Curah hujan tinggi sepanjang bulan. Turun tanpa henti seolah lapisan atmosfer hanya berisi H2O dan bocor di atas daerah penuh hutan rimba itu.

Pohon-pohon terbawa arus. Terutama pohon yang sudah mati ditangan kapak atau gergaji mesin yang dingin dan kejam. Mereka berserakan di pantai. 

Sebuah pemandangan yang sangat indah dan patut disyukuri oleh para berang-berang. Itu pun jika mereka berhasil selamat dari terjangan air bah yang tidak pernah diduga oleh makhluk sekitar yang tidak menyadari adanya pengalihan fungsi hutan.

Namun beberapa sapien tahu dan sadar benar kalau musibah itu bukan karena anomali cuaca atau karena turunnya azab Tuhan. Pengalihan fungsi lahan jelas adalah faktor terbesar yang paling pantas disalahkan. Tetapi tidak ada yang cukup mampu untuk menyalahkan pihak-pihak yang terkait sebab mereka punya 1002 alasan—lebih banyak dari cerita 1001 malam—dan mereka punya kendali.

Banjir kali ini bukan yang pertama kali. Ini adalah banjir susulan—jika boleh dikatakan begitu. Setelah banjir yang menyisakan atap rumah itu surut, warga mengungsi di tenda-tenda. Hidup seadanya dengan bantuan dari para donatur—dan sedikit dari pemerintah setempat. 

Tetapi belum sempat mereka kembali ke rumahnya, air kembali datang menggenangi pemukiman dan meluruhkan tanah di tepi perbukitan. Membuat warga terpaksa berlama-lama di pengungsian. 

Chester mengembuskan napas kasar setelah memasukkan mayat yang tertimbun tanah basah ke dalam kantong jenazah. Tangannya penuh lumpur. Begitu juga wajah dan rompi jingganya. Kakinya masih terbenam lumpur sebetis.

Itu adalah mayat ketiga yang timnya temukan hari ini. Chester melirik kantong jenazah itu dengan bimbang. Sebab jika ada mayat lain yang ditemukan, mereka tidak memiliki kantong lain dan terpaksa harus membungkusnya dengan kain seadanya. Total keseluruhan korban meninggal dunia sejumlah 21 orang, sementara puluhan lain masih hilang. Dan 9 mayat masih bertumpukan di dekat sebuah rumah ibadah yang masih berdiri kokoh tanpa ternodai setitik pun lumpur. 

Akses jalan menjadi sulit karena banyak jalan tertutup longsor dan sebagian masih terendam air coklat. Beberapa kendaraan yang mengangkut bantuan logistik terpaksa harus berhenti di beberapa titik menunggu air benar-benar surut.

Matahari yang terik kembali bersembunyi di balik awan. Chester keluar dari genangan lumpur dan berteriak pada timnya, “Kita lanjut besok! Sebentar lagi hujan!”

Mereka menggotong tiga mayat yang ditemukan di titik itu. Sepertinya laki-laki, perempuan dan seorang anak kecil yang tertimbun itu adalah satu keluarga. Posisi mereka berdekatan. Si perempuan bahkan masih dalam posisi memeluk si anak kecil.

Chester melepas sarung tangannya kemudian menyeka keringat di kening. Tragedi-tragedi keluarga semacam itu hampir membuatnya memutuskan untuk menjadi bujangan seumur hidup. 

Tapi Chester tidak berniat pensiun dini. Bisa membantu dan menyelamatkan orang lain membuat Chester merasa berguna. Dan dia menyukai itu. 

Chester baru saja duduk di bangku sebelah mushala ketika Joel datang dengan wajah merah. Mata abunya berkilat marah. 

Lihat selengkapnya