Di dalam tenda darurat, seorang relawan membebat pergelangan tangan Helen dengan kasa. Helen baru saja ikut membersihkan lumpur yang mengenang sebuah sekolah. Rencananya sekolah itu akan dijadikan shelter sementara juga karena tenda kurang melindungi dari hujan angin.
Tangan Helen cedera saat membersihkan beberapa bangku dan meja yang berserakan di lantai. Helen kira bangku itu ringan, tapi ternyata tangan kecilnya tidak mampu mengangkat bangku itu. Ototnya cedera dan tergores kaki bangku yang patah sehingga tangannya juga berdarah.
“Nah, sudah. Lain kali hati-hati, Hel,” kata relawan yang seorang dokter muda pada Helen.
Helen hampir saja minta maaf. Tapi ia teringat kalimat Corey yang bilang kalau Helen terlalu banyak minta maaf sehingga hanya kata terima kasih yang keluar dari mulutnya.
Tenda medis itu terlihat lengang. Semua pasien tampaknya rawat jalan. Helen melihat persediaan obat di rak yang hampir habis.
“Obat-obatan belum datang lagi?” tanya Helen pada dokter bernama Jiwa itu.
Jiwa yang tengah merapikan stetoskop dan alat pengukur tensi darah menoleh, “Belum. Kayaknya, sih, ga bakal datang dalam waktu dekat. Padahal banyak pengungsi yang diare.” Jiwa melihat obat-obatan yang tersisa dengan pasrah.
“Stok makanan juga mulai menipis.” Helen melihat tangannya yang terluka.
“Pemulihan dari bencana seperti ini tidak akan cepat,” gumam Jiwa. “Apalagi statusnya bukan bencana nasional. Sepertinya dalam beberapa bulan tidak akan ada perubahan berarti.”
Helen mengangguk pelan. Dengan infrastruktur yang hancur, akan sulit mendistribusikan bantuan. Bukannya tidak bisa, tapi cost untuk pendistribusian akan naik. Sementara para pengungsi butuh makanan dan obat segera. Air bersih juga menjadi masalah penting.
Ditatapnya tenda-tenda lain yang dipenuhi ibu-ibu dan anak-anak yang duduk-duduk. “Menurutmu, berapa lama kita bisa bertahan dalam kondisi seperti ini?” tanya Helen.
Jiwa terdiam, ikut memperhatikan keadaan para pengungsi yang kebanyakan memakai pakaian seadanya. “Mungkin beberapa bulan, selama berita banjir ini masih bisa bertahan dan mencuri perhatian masyarakat. Setelahnya, sebagian orang akan mulai lupa atau malah abai. Biasanya bantuan akan semakin berkurang.”
Helen menarik napas. Tangannya yang terluka mungkin bukan sekadar kecelakaan, tapi peringatan. Karena dia sudah menyetujui lahan untuk hutan mini dijadikan zona pangan darurat.
Setidaknya dengan pembukaan lahan itu, mereka tidak akan kekurangan makanan beberapa bulan kemudian. Meski Helen tahu kalau berkurangnya hutan sekunder akan mengakibatkan banjir yang lebih besar.
Dari balik tenda, mata Helen melihat Chester dan Joel mendekat. Joel tampak buru-buru menarik Chester, hampir menyeret cowok jangkung itu.
“Hel…,” ucap Joel dengan napas memburu setelah berada tepat di depan tenda medis, “kita perlu bicara.”
Helen mengikuti Joel dan Chester menjauhi tenda-tenda menuju puing-puing rumah warga yang roboh. Dia mungkin tahu apa yang ingin kedua temannya itu bicarakan.
“Hel—” Chester yang bicara duluan, “Lu beneran setuju lahan RM yang buat hutan dialihfungsikan jadi zona pangan?”
Helen mengangguk pelan, tidak mengelak.
“Lu gila, Hel!” seru Joel penuh amarah. “Lu tahu kalau itu serupa hutan sekunder, kan? Tempat itu daerah penyangga air, habitat beberapa hewan kecil. Dan lu mau buka lahan itu?”
Chester bergerak ke depan Joel, takut kalau cowok bermata abu itu khilaf. Emosi Joel terdengar meluap-luap. Ini pertama kalinya Chester melihat Joel seemosi itu sejak SMA.
Helen menunduk, melihat kain kasa yang membalut tangannya. Dia sangat sadar kalau keputusannya terlalu ekstrem. Tapi bayangan tentang kelaparan berkelebat. Dia masih ingat jelas suara sobekan daging dan suara kunyahan mereka yang memakan sesama di masa depan.
“Lu ga beda sama korporasi. Buka lahan atas nama krisis!” Joel setengah teriak dan Chester makin siaga jadi wasit.
“Joel… korporasi buka lahan buat untung. Gue buka lahan biar mereka ga kelaparan dan bisa survive,” ujar Helen, berusaha menyembunyikan suaranya yang sedikit bergetar.
“Terus nilai ekologinya gimana?” Wajah Joel berkerut. “Kalau semua orang mikir kayak lu, hutan habis!”
Helen mengangkat wajah. Suaranya rendah dan datar, “Kalau semua orang mati kelaparan, ga ada yang tersisa buat mikirin hutan.”