Lampu neon di performance centre markas tim pagi itu terasa lebih redup dari biasanya. Corey baru saja menyelesaikan sesi simulasi dua jam, sementara Gerard sudah bersiap dengan matrasnya. Di antara mereka berdiri Coach Oliver, pria yang tidak mengenal kata "santai" jika menyangkut stabilitas tubuh dan mental.
"Nice to see you two,” kata Oliver melihat Gerard dan Corey dalam satu ruangan. Hal yang jarang banget terjadi.
“Corey, berhenti bersandar di dinding. Gerard, simpan botol minum. Kita mulai," suara Oliver menggema, tegas dan tanpa basa-basi.
Oliver menunjuk ke arah resistance band yang terikat kuat pada tiang baja. "Gerrard, ambil posisi Pallof Press*. Corey, lu jadi bebannya."
Gerrard mendengus, mengambil kuda-kuda samping yang kokoh. Corey memegang ujung karet, menariknya sekuat tenaga agar Gerard terpelanting ke samping.
"Tahan, Gerry! Bayangin ini Tikungan 9 di Barcelona. Kalau core lu lembek, mobil melintir!" teriak Oliver.
Gerard mengunci perut, wajahnya memerah menahan tarikan Corey. Otot oblique-nya menegang, berusaha menjaga tangan tetap lurus di depan dada. "Corey... lu narik... kayak mau mutusin... kabel baja," geram Gerrard di sela napasnya yang pendek.
Corey yang wajahnya serius semakin kuat menarik ujung karet. Diam-diam dia tersenyum melihat ekspresi penderitaan Gerard.
“Terus Corey…,” kata Oliver sambil memperhatikan stop watch. Tiga detik kemudian dia mengangkat tangan.
Corey berhenti menarik dan Gerard menghirup udara sepuasnya.
Oliver membiarkan Gerard bernapas lega. Sementara itu, ia mengeluarkan Swiss ball* dari ruang peralatan.
“Corey… plank di situ!” tunjuk Oliver.
Corey mendekati bola besar empuk itu dan meletakkan kedua siku di atas bola. Sementara tubuhnya lurus dengan kaki sebagai tumpuan.
Oliver menyenggol swiss ball beberapa kali dengan ujung sepatunya. Keringat Corey semakin banyak. Kemudian pria berambut pirang itu membawa plat 10 kg dan meletakkannya di punggung Corey. Giliran Gerard yang diam-diam tertawa.
“Ini ga adil,” gumam Corey yang menahan posisinya dengan keringat yang mulai menetes. “Gerard cuma nonton doang?”
“Siapa bilang?” Oliver meletakkan BOSU ball* beberapa meter di dekat Corey. “Gerry, berdiri dengan satu kaki di sana! Lempar bola medisin ini tiap kali Corey bilang ‘siap’.”
Latihan itu berubah menjadi kekacauan yang terorganisir. Gerard harus menjaga keseimbangan kaki sementara Corey berusaha tidak terjungkal saat menerima hantaman bola medisin seberat 5kg di atas punggung yang sudah terbebani.
“Oke, cukup!”
Kalimat pendek Oliver memberikan angin segar untuk Gerard dan Corey. Corey mengambil handuk, mengelap keringat dan menyambar botol isotonik di dekat tasnya.
“Sesi terakhir!” Oliver tersenyum cerah. “Favorit gue,” gumamnya sambil menyingkirkan BOSU dan swiss ball.
Gerard menunduk sambil geleng kepala. Jelas sangat tidak suka dengan apa yang akan dia dan Corey lakukan.
“Chop! Chop! Ambil posisi!” Oliver menepuk kedua telapak tangannya nyaring..
Corey dengan malas menghampiri matras dan berbaring di atasnya. Begitu juga Gerard.
“Hollow body hold!” teriak Oliver.
Corey dan Gerard yang terlentang mengangkat badan dan kakinya sedikit ke udara.
“I hate the banana!” seru Gerard tertahan.