Matahari sudah benar-benar tenggelam di balik grandstand, menyisakan langit ungu gelap yang kontras dengan ribuan lampu sorot sirkuit yang menyilaukan. Di dalam kokpit, satu-satunya dunia Corey adalah setir karbon di depannya dan lampu shift yang berkedip merah.
“Gap to P1 is 1.2 seconds, Corey. Two laps to go. Push now, you have the pace,” suara James Jackson terdengar tenang tapi tajam di radio.
Corey tidak menjawab. Napasnya pendek-pendek, ritmis. Di depannya, mobil rivalnya mulai goyah di tikungan cepat sektor satu.
Corey mengambil resiko. Di Tikungan 13 yang melingkar, dia menahan gas lebih lama. Ban supersoft-nya menjerit, membuang serpihan karet panas ke dinding beton yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari spionnya.
Sedikit lagi.
Jangan mati sekarang, Corey, batinnya sendiri. Wajah Oma Julia melintas sekilas, lalu bayangan Helen di kondangan tempo hari. Dia butuh menang. Bukan buat Max Vorstein, tapi buat membuktikan kalau dia masih ingin hidup.
Lap Terakhir. Tikungan 27.
Ini tikungan terakhir sebelum lintasan lurus finish. Corey melakukan late braking yang brutal. Mobil Mad Monkey-nya berguncang hebat, ban depan terkunci sejenak mengeluarkan asap putih. Dia menusuk dari sisi dalam, memaksa rivalnya melebar.
“YES! Beautiful move, Corey! Keep it together till the line!” James berteriak, kali ini emosinya pecah.
Corey menginjak pedal gas dalam-dalam. Mesin Mecachrome V6 di belakang punggungnya meraung maksimal. Dia melewati garis finish dengan selisih hanya setengah moncong mobil.
“P2, Corey! P2! Sensational drive!”
Corey melepaskan napas yang seolah dia tahan sejak start. Tangannya gemetar di atas setir. Dia lemas. Bukan cuma karena fisik, tapi karena beban di kepalanya. Dia membawa mobil itu ke parc fermé, mematikan mesin, dan untuk beberapa detik, dia cuma diam di dalam kokpit yang panasnya seperti neraka.
Dia merasa kosong. Melaksanakan prosedur sesuai standar tapi kakinya masih terasa sedikit melayang. Meski sepatunya sangat tipis, Corey belum bisa merasakan aspal di bawah kakinya.
Corey keluar dari parc fermé setelah penimbangan. Helm masih di tangan, napasnya belum sepenuhnya turun. Dari jauh, pit lane Mad Monkey sudah seperti sarang lebah yang meledak—mekanik melompat, bendera tim dikibarkan, Owen sudah teriak-teriak ke media.
Tapi insting pembalapnya menangkap sesuatu yang tidak sesuai pola. Biasanya, timnya itu seragam hitam-kuning, gerak cepat, chaos teratur.
Sekarang tetap chaos. Tapi… ada satu titik yang statis. Satu tubuh yang terlalu tenang di antara gerak yang terlalu liar.
Langkah Corey melambat.
Di antara dua mekanik yang masih lompat-lompat sambil teriak “P2! P2!”, ada seseorang berdiri lebih mundur. Pake jaket gorpcore yang kebesaran. Credential paddock menggantung di dada. Tangan dimasukkan ke saku. Warna jaketnya mungkin sama hitam-kuning seperti baju tim, tapi Corey kenal banget dengan jaket gunung yang dulu sering menemaninya naik Semeru atau Rinjani.
Dan dunia Corey… berhenti sejenak.
Itu Helen. Meski wajahnya tertutup semua—kecuali mata—Corey bisa memastikan itu.
Bukan versi pernikahan Helmy. Atau versi rapi pimpinan RM. Tapi versi yang paling Corey kenal.
Langkah Corey refleks goyah. Helm di tangannya nyaris jatuh. Suara Owen yang teriak dari depan tiba-tiba jadi dengung samar.