Hutan lindung di kaki gunung itu masih dipenuhi pepohonan dengan vegetasi hutan tropis yang asri. Namun jauh di kedalaman, beberapa bagiannya telah dibabat demi mendirikan tenda-tenda tambang ilegal. Bagian itu cukup dalam dan tersembunyi. Orang biasa hampir tidak mungkin mengaksesnya kecuali melalui satelit perusahaan raksasa yang memiliki aplikasi peta gratis.
Jadi, orang biasa akan menganggap kalau taman nasional itu baik-baik saja. Tapi tidak bagi Corey dan Helen. Mereka cukup peka untuk merasakan vegetasi di sana jauh lebih sedikit dibanding dengan tiga puluh tahun lalu. Semaknya tidak serapat dulu. Sinar matahari pun sekarang mampu menembus dedaunan.
Helen ingat sekali dulu keadaannya sangat gelap. Cahaya tidak mampu menutupi jalan yang sekarang mereka lalui. Pun begitu dengan tanaman-tanaman di sekitarnya. Jika dulu mereka dengan mudah menemukan tumbuhan yang dapat dikonsumsi, sekarang Helen harus menyibak semak belukar lebih dalam untuk menemukan beberapa jenis tanaman yang biasa warga sekitar jadikan lalap.
Sejak pulang dari Sumatera, Helen berhenti dari kebun binatang dan menikmati pekerjaan barunya di Sintas. Dia mengajar untuk kelas alam anak SD setiap sabtu dan minggu. Hari lain kesibukannya adalah mengurus ladang dan hutan RM.
“Kalau ujiannya sekarang, kayaknya kita bakal mati kelaparan,” gumam Helen sambil menatap buah kecil merah-ungu yang ditemukannya di dekat batu.
“Kita bakal mati karena menemukan tambang ilegal, Len. Bukan kelaparan. Jalurnya terlalu jelas untuk bikin kita tersesat,” ujar Corey yang terdiam menatap sekeliling dengan mata tajam menyelidik.
“Kamu emang jago menghafal jalur, ya? Ga heran cepat hafal sirkuit baru.” Helen mengunyah buah kecil yang ukurannya ga lebih besar dari leunca itu.
“Bukan aku yang cepat hafal. Kalian yang lambat.”
Helen menyembunyikan senyum kecilnya. Ekspresi cowok itu di sirkuit dan di hutan sangat berbeda. Jika di lintasan Corey serius tapi ramah di kamera, di hutan dia kembali jadi cowok serius yang ga ada ramah-ramahnya. Corey jadi… ya, Corey. Nyinyir, sarkas dan kadang kurang empati.
“Oke,” ucap Helen tanpa melawan.
“Kamu tahu kalau hutan ini terus dibabat bakal gimana?” Corey melirik Helen tajam.
Helen menunduk. Dia tahu tatapan itu. Corey sudah tahu semuanya. Dan membawanya serta ke dalam acara jelajah alam kali ini bukan ide yang baik. Tapi Helen terpaksa membiarkannya ikut karena mungkin ini salah satu kesempatan Corey untuk bersentuhan dengan pepohonan dan udara sejuk di liburan balapannya.
Helen tidak berani mengangkat wajah. Jemarinya memegang erat ujung jaket putih yang ia kenakan. Dia tahu dia bersalah. Tapi dia tidak merasa bersalah. Atau mungkin belum(?)
“Aku dengar semuanya dari tante. Joel juga,” ucap Corey dingin. “Kenapa, Hel?”
Bahu Helen menegang. Tangannya semakin meremas ujung jaket. Udara di hutan yang sejuk perlahan naik. Dia menatap pucuk pakis yang melingkar dengan bulu-bulu halus yang sesekali bergoyang tertiup angin. Dia kesulitan menelan ludah dan bernapas.
Suara langkah Corey yang menginjak daun layu dan kering terdengar terlalu nyaring di telinga Helen. Sebelum pacarnya itu berada di hadapan, Helen berbalik ke belakang. Sebuah sensasi hangat menuruni pipinya sebelum tergantikan oleh rasa lembap yang mengalir.
Ini dia. Hari penghakiman baginya. Helen tahu kalau hari ini akan datang. Dia sudah menyiapkan kata-kata diplomatis dan pertahanan yang kuat untuk melindungi diri. Tapi yang paling menyakitkan adalah bahwa dia belum merasa bersalah atas keputusannya beberapa bulan lalu itu.
“Aku ga menyesal,” cicit Helen sambil menghapus air matanya. “Kamu boleh benci aku seperti Joel. Aku tahu tindakanku itu tidak sepenuhnya benar.”
Langkah Corey berhenti. Hening menggantung di udara sampai angin membuat daun-daun bergesekan dan mendendangkan suara alam yang menenangkan.
Helen mendongak, melihat ranting-ranting yang berayun pelan. Mereka bergerak tenang seolah tidak ingin ada perdebatan atau perpecahan.
“Aku cuma mau menolong mereka,” kata Helen lebih kepada pohon-pohon yang menaunginya daripada Corey. Helen merasa tidak sanggup menghadapi pancaran mata Corey yang penuh amarah. Jadi dia memilih bicara pada daun dan ranting.
“Pilihannya antara membiarkan mereka kelaparan atau melihat banjir yang semakin besar. Aku lebih milih melihat yang kedua. Mereka bisa direlokasi jika masih bisa bertahan hidup.” Helen terkejut mendengar suaranya sendiri yang selantang itu.
Corey meraih sebelah tangan Helen dan meremas jemarinya.
“Lain kali, kita pikirkan masalah seperti ini sama-sama. Aku ga mau kamu mengambil semua beban itu sendirian, Hel.”
“K—kamu… ga marah?” Helen berbalik dan pelan mengangkat wajahnya perlahan untuk melihat Corey.
“Mana bisa aku ga marah saat ada cewek seenaknya menebang hutanku?”
Helen melihat mata Corey yang penuh amarah. Tapi rasanya ia sanggup menghadapi tatapan itu karena semakin lama mata itu semakin melembut.
“Aku marah. Tapi apa hak aku? Aku ga ada di sana saat itu jadi aku ga tahu gimana posisi kamu. RM sudah aku percayakan sama kamu, Hel. Dan aku masih percaya kamu. Kamu punya pertimbangan kamu sendiri. Kamu melihat apa yang orang lain ga lihat. Aku bisa apa?”
Corey mendekat, mengusap air mata Helen yang meleleh dengan kedua jempolnya.
Helen bahkan tidak sadar kalau air matanya tumpah. Dia pikir dia kuat untuk menatap mata itu. Nyatanya ia menangis juga.
“Helen… Aku benci banget saat aku merasa ga berguna buat kamu. Please, jangan bikin aku jadi orang yang ga berguna lagi….”
Helen terdiam. Ia tidak tahu mengapa air mata itu jatuh. Gadis itu tidak menyesali keputusannya. Mungkin dia takut Corey marah padanya atau lebih jauh. Dia takut lelaki di hadapannya akan meninggalkannya.
“Kak Helen!!! Kak!“ suara Ria nyaring di balik pepohonan.