SINTAS 2.0: ENDURE

Keita Puspa
Chapter #43

Season 4: Undercut Warning

Libur kali ini harus berakhir lebih cepat karena sebagai reserve driver, Corey akan mencoba setiap komponen mobil sebelum musim balap selanjutnya dimulai. Apalagi musim berikutnya regulasi baru mulai diberlakukan. Setiap tim memerlukan riset dan analisa data sebaik mungkin agar mobil mereka siap untuk merebut poin dalam World Constructor Championship.

Meski sejujurnya, Hollie Racing bukanlah tim papan atas. Musim lalu mereka hanya menduduki posisi ke tujuh dari sepuluh tim yang  berlaga di Formula 1. Tapi ini adalah sebuah prosedur yang harus dijalankan oleh setiap tim. 

“Jadi, bagaimana dengan rem belakangnya?” tanya engineer setelah Corey keluar dari simulator usai hampir dua jam balapan.

“Butuh waktu agar remnya benar-benar berfungsi. Mungkin di lap awal kita akan kesulitan di tikungan tajam,” jawab Corey sambil melihat si engineer yang memiliki rambut kelabu seperti awan mendung. Dia lupa siapa nama si engineer, jadi diliriknya name tag yang terjahit di dada kanan seragamnya yang berwarna hijau giok. Teddy Prepp. Usianya jauh lebih muda dari James. Mungkin seusia Ms. Molly.

Teddy menulis kata-kata Corey di kertas kemudian mengangguk dan kembali bertanya, “Apa ada hal lain yang mengganggu?”

Corey mengernyit. “Di lurusan panjang, kecepatannya terus menurun.”

“Yep!” seru Oswald yang mengintip catatan Teddy. “Itu memang masalah utama kita. Di simulator aja mobilnya lelet. Bagaimana di trek? Kita bahkan belum pakai mobil asli. Ya, Tuhan! Mesin apa, sih, yang kita pakai? Sudah kubilang kita harusnya pakai pabrikan Yunde.” Dia adalah race engineer yang cerewet. Tidak ada yang tahan untuk ngobrol dengannya lebih dari tiga puluh menit.

Teddy menghela napas. “Okay. Got it. Besok kita akan uji coba wing baru. Jangan telat lagi latihan,” katanya sembari menuding Corey.

Corey mengangguk pelan. Sadar dengan kesalahannya siang ini. Tadi pagi dia nekat menjemput Helen di bandara meski tunangannya itu bilang tidak usah dijemput satu jam sebelum jam latihannya. Tapi Corey tidak terlalu ambil pusing. 

“Dengar, ya,” Teddy mendekati Corey dan berbicara di sampingnya perlahan, “walaupun masuk jalur ordal, tapi tetaplah profesional.” Engineer itu menepuk bahunya penuh arti dengan tatapan tidak mengenakan. 

Corey menghela napas pelan. Walaupun perkataan Teddy tidak benar, dia menerimanya. Corey memang masuk Hollie Racing melalui koneksi Max. Hal yang sepatutnya disesali. Harusnya dia masuk ke tim Michael Motorsport jika saja tidak peduli dengan nasib Mad Monkey. Namun, itu tidak lantas membuatnya merasa bisa berlaku seenaknya. Oke… dia memang ceroboh dengan telat latihan. Helen pasti akan mengomel selama setengah jam penuh kalau tahu. 

“So, gimana?” tanya James yang sudah menunggu Corey di lobby markas Holie Racing. Dia masih duduk santai di sofa panjang hitam dengan setelan krem yang tampak mahal. Salah satu tangannya memegang tablet dan kopi latte di tangan lain. 

Corey duduk di sofa samping James. Dia melesakkan punggungnya ke sandaran dan meregangkan tangan.

“Menyesal ga gabung tim Michael?” tanya James lagi. Diletakkannya cangkir kopi yang tinggal berisi seperempat. 

“Belum. Saat ini masih belum,” jawab Corey setengah tertawa. “Mereka belum tahu gue aja.”

“Oh, ya, tentu. Corey Tirtabuana yang bucin abis dengan tunangannya.” James mendengus dan mengibaskan tangan di depan wajah. Sementara Corey nyengir—tersanjung mendengarnya. 

Thanks pujiannya.”

“Anytime, Kid. Seenggaknya percintaan lu harus mulus. Sebab karir lu—di Holie Racing—kayaknya bakal penuh lubang dan gundukan aspal. Max ga tahu aja kalau manajemen HR itu—” James tiba-tiba sadar tengah berada dimana. Dia berdehem dan menghabiskan kopinya sebelum berujar, “Let's go home.”

Lihat selengkapnya