“Sinyo, kamu kemana aja sih? Dari tadi Lilis cari kamu kemana-mana,” kata Lilis sambil cengar-cengir manja didepan Sinyo Marco. “Emangnya apa urusan lo!” gumam Juned kesal pada Lilis. Ternyata Lilis mendengar gumaman Juned barusan, Lilis cemberut. Ekspresinya yang tadi girang, kini berubah murung. Sinyo Marco jadi kasihan melihatnya. “Emangnya Lilis salah apa, sih? Kok kamu benci banget sama Lilis. Apa Lilis salah kalo Lilis mau ketemu sama Sinyo!” sentak Lilis pada Juned. Juned hanya mencibir menanggapinya. Lilis balas mencibir juga. Sinyo Marco yang berdiri tepat di tengah mereka, berusaha menjadi penengah yang bijak, “Sudah, sudah ... Kalian jangan berantem! Malu tuh dilihat orang,”
“Abisnya dia duluan sih yang cari gara-gara, Sinyo,” kata Lilis membela diri didepan cowok idolanya. “Lo tuh yang nyebelin,” bantah Juned. “Tuh kan ...” sergah Lilis kembali manja didepan Sinyo Marco. “Juned ... Lo diem!” perintah Sinyo Marco. Juned langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Lilis kembali sumringah ketika Sinyo Marco sudah membelanya. Lilis kembali bisa cengar-cengir lagi.
“Lilis, emangnya kamu ada apa cari aku?” tanya Sinyo Marco kembali ramah pada Lilis. Sinyo Marco tahu perasaan Lilis sebagai cewek, sangatlah halus, jadi untuk menghadapinya harus dengan lembut dan hati-hati, supaya perasaannya tidak ter-iris. “Jujur aja seharian Lilis gak ketemu sama Sinyo Marco. Lilis kangen banget. Rasanya pengen dehh tiap hari Lilis bisa temenin Sinyo kemana-mana,” jawab Lilis sambil tersipu malu. Juned kembali mencibir mendengarnya. Lilis sempat melihat cibiran Juned. Kali ini, Lilis benar-benar kesal pada Juned. “Seandainya disini cuma ada kita berdua. Yang lain pastinya iblis,” kata Lilis yang berusaha memanas-manasi Juned. Mendengar itu, Juned tersinggung, “Lo pikir gue setan! Gue tuh ajudannya Sinyo. Dimana ada Sinyo, disitu ada gue, tau lo!” bentak Juned yang kini sudah naik pitam. Lilis menangis, bentakan Juned barusan sudah membuat hatinya luka. “Tuh ‘kan ... Jadi nangis dehh anak orang.” kata Sinyo Marco yang selalu kebingungan setiap kali melihat ada cewek menangis didepannya. “Abisnya dia nyebelin banget! Hampir tiap hari gangguin kita mulu. Kesel gue!” bantah Juned, “Udah, biarin aja dia nangis sampai mampus. Kita pergi aja yukkk, Sinyo?” kata Juned sambil beranjak dari duduknya.