“Mau ngapain sih akang kesini?” tanya Lilis ketus. Sama sekali Rahman tidak tersinggung menanggapi sikap ketus Lilis. Cintanya yang terlalu besar pada Lilis, sudah menutupi perasaannya yang gampang tersinggung dari dulu. Kata orang, cinta itu buta ... Emang ada benernya juga sih. “Maaf kalo kedatangan akang udah mengganggu Lilis. Abisnya dari tadi akang cari-cari Lilis kerumah, gak ada mulu. Tapi sekarang akang senang karena akang udah ketemu sama Lilis,” jawab Rahman diakhiri dengan senyuman untuk membuat hatinya Lilis terkesan, tapi sama sekali Lilis tidak terkesan dengan senyuman Rahman, buktinya Lilis mingkem aja tuh mulutnya.
Sekarang kita beralih pada Sinyo Marco dan Juned yang sedari tadi hanya diam memperhatikan Rahman yang cintanya hanya bertepuk sebelah tangan pada Lilis. Kasihan banget deh. Juned tak habis pikir, ternyata masih ada aja orang yang mau sama type cewek kayak Lilis. Bener kata orang, cowok itu kadang-kadang suka bego!
“Sekarang akang udah ketemu sama Lilis. Terus akang mau apa?” tanya Lilis. Rahman terlihat grogi dan sedikit malu-malu ketika ingin menjawab pertanyaan Lilis. Rahman hanya bisa tersenyum sipu didepan Lilis. Gigi depan Rahman yang tonggos, masih saja nongol keluar, meskipun dia cuma tersenyum sipu. Mungkin karena masalah gigi tonggos itulah salah satu penyebab Lilis tidak menyukai Rahman. Atau mungkin juga karena wajah Rahman yang “tak seberapa” kalah jauh bila dibandingkan wajah Sinyo Marco yang tampan menawan hati setiap cewek yang melihatnya, termasuk Lilis. “Akang nggak mau apa-apa, Lis. Akang cuma mau ... Mau, kasih ...” jawab Rahman, masih grogi. Perlahan Rahman mengeluarkan kedua tangannya yang sedari tadi disembunyikannya dibalik punggung. Ternyata kedua tangan itu menggenggam sekuntum bunga mawar, “ ... Akang mau kasih ... Kasih bunga ... Bunga mawar ini ... Buat Lilis ...” lanjutnya, dengan terbata-bata.
Melihat sekuntum bunga mawar yang ditawarkan Rahman, hati Lilis masih juga tidak terkesan. Untuk sesaat, Rahman tidak menyadarinya. Tapi nanti, Rahman akan tahu sakitnya ditolak cinta.
“Hari ini akang udah memutuskan sesuatu, Lis,”
“Memutuskan apa, Kang?” tanya Lilis.
“Memutuskan kalo hari ini akang mau nembak kamu. Eghhh maksudnya, akang mau nyatain cinta akang sama kamu. Ai lop Yu, Lis,” kata Rahman yang kini sudah mulai PD (Percaya Diri) menghadapi Lilis. Meskipun terdengar konyol, tapi cuek aja-lah.
Melihat kumbang hitam yang sedang kasmaran, ternyata bisa membekukan suasana di kolam pemancingan. Semua orang di sana, termasuk Sinyo Marco dan Juned, mendadak terpaku melihat aksi sang kumbang yang berusaha memberanikan dirinya menyatakan cinta pada bunga desa pilihannya.
“Kalo Lilis mau nerima cinta akang, Lilis boleh ambil bunga mawar ini. Tapi kalo Lilis menolak cinta akang ... Lilis juga boleh ambil bunga mawarnya. Jadi semuanya terserah Lilis mau pilih yang mana?” tanya Rahman sambil mengulurkan tangannya yang masih memegang sekuntum bunga mawar. Sejenak Lilis diam. “Lilis mau jadi pacar akang atau tidak? Silahkan dipilih saja, bebas-lah kalo sama akang,” lanjut Rahman dengan berlogat sunda. Maklumlah, Orang Sunda terkadang suka norak kalau harus ber-Bahasa Indonesia. Tanpa d isangka dan tanpa terduga, akhirnya Lilis mengambil bunga mawar itu dari tangan Rahman. Sinyo Marco dan Juned yang sudah deg-degan sedari tadi, akhirnya bisa bernafas lega karena sekarang Lilis sudah punya pacar, sehingga bisa dipastikan Lilis tidak akan pernah lagi ber-ambisi mengejar cinta Sinyo Marco.