SINYO MARCO

Gie_aja
Chapter #5

LIMA

Pintu kamar terbuka. Sinyo Marco sudah berdiri disamping pintu. “Sinyo,” sapa Pak Sihotang sambil membungkuk setengah badan, memberi hormat pada juragannya. Apa yang dilakukan Pak Sihotang, diikuti pula oleh Ipeh, Munaroh dan Bi Iyos. “Sinyo,” sapa mereka. “Hmmm ...” jawab Sinyo pelan, “Maaf, Pak. Saya lupa kalo hari ini Papi pulang,” lanjut Sinyo Marco sambil berjalan menghampiri Pak Sihotang dan tiga pembantunya. “Nggak apa-apa. Lupa itu biasa, Sinyo,” kata Pak Sihotang ramah, “Tapi sekarang kita udah nggak punya banyak waktu lagi. Sebentar lagi Tuan Hener pulang, Sinyo harus segera merapikan diri untuk menyambut kedatangan Papi Sinyo,” lanjutnya sambil langsung menuntun tangan Sinyo menuju kamar ruang ganti.

    

Setelah menerima aba-aba jentikan jari dari Pak Sihotang, serentak Ipeh, Munaroh dan Bi Iyos langsung bergegas melayani tuan muda mereka. Ipeh memberikan kemeja, jas dan celana untuk dikenakan oleh Sinyo Marco. Setelah selesai, giliran Munaroh memakaikan sepatu pada kedua kaki Sinyo Marco, lalu dilanjutkan lagi dengan menyemprotkan parfum ke sekujur badan Sinyo Marco. Setelah itu, giliran Bi Iyos untuk lebih mempertampan penampilan Sinyo Marco dengan menata rambutnya.

    

Sebenarnya Sinyo Marco tak suka dirinya terlalu dimanjakan oleh pembantu-pembantunya. Tapi karena perintah dari Tuan Hener supaya mereka merawat penampilan Sinyo Marco, akhirnya Sinyo Marco hanya bisa menurut saja pada perintah ayahnya yang sudah memberikan otoritas penuh pada Pak Sihotang untuk perawatan Sinyo Marco, anak kesayangan Tuan Hener.

Sepuluh menit lamanya Sinyo Marco dipermak penampilannya, akhirnya dia sudah benar-benar siap menyambut kedatangan Tuan Hener. Dengan diiringi oleh Pak Sihotang dan tiga pembantunya, Sinyo Marco beranjak keluar kamar.

 

***

 

Sudah lebih dari dua jam mereka menunggu, tapi mobil Jaguar yang membawa Tuan Hener masih belum nampak juga. Pegal-pegal di kaki sudah mulai tak tertahankan lagi. Akhirnya, satu per satu dari ratusan karyawan itu memutuskan untuk duduk-duduk santai di teras gedung PT. Inti Gemilang Makmur. Pak Herlambang juga tidak bisa memaksa mereka tetap berbaris, karena kakinya juga sudah mulai kesemutan. Akhirnya Pak Herlambang memutuskan untuk bergabung duduk-duduk santai bersama mereka.

    

Lihat selengkapnya