Blurb
Hilal hidup dalam benteng tempat seorang "imam" lebih fasih mencambuk daripada memeluk. Di rumah ini, sabuk kulit seolah menjadi lidah Tuhan dan setiap bilur di punggung adalah harga menuju surga. Dia tawanan adab yang dipaksa sujud dalam ketakutan, hingga kehadiran Kavian menyadarkannya bahwa keselamatan tidak akan turun dari langit yang bocor oleh kemunafikan. Ini gugatan bagi mereka yang memoles kening dengan sujud, mewangikan tubuh dengan murottal Alquran, tetapi tangannya sibuk membusukkan isi rumah atas nama ketaatan.