Hari Selasa, satu hari setelah perayaan kemerdekaan negara yang ke-75. Hidup kembali dimulai setelah sebelumnya melepas penat dengan permainan yang diadakan Karang Taruna setempat. Di jalan-jalan perumahan, yang lebarnya hanya cukup untuk satu mobil, bendera merah putih masih tergantung miring, warnanya sedikit pudar akibat hujan besar semalam. Beberapa pita plastik yang kemarin dijadikan hiasan kini menempel di aspal, tertiup angin pagi yang seolah memberi titah untuk pergi.
Perumahan itu bukanlah kompleks besar dengan gerbang megah dan satpam yang berjaga. Hanya deretan rumah-rumah seragam berukuran sedang, berlantai satu, satu dua cat rumahnya mulai pudar di beberapa sudut, dan kebanyakan penghuninya pindah sekitar setahun kemudian.
Jalanan bata merahnya sempit, tetapi cukup bagi para penghuninya untuk mobilisasi keluar dan masuk. Dari musala di ujung jalan, terdengar lantunan azan subuh yang berkejaran dengan azan dari musala-musala lain. Bergema, saling sahut menyahut, tidak memberi jeda. Pagi ini, doa-doa melayang lagi, seperti hari-hari kemarin, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu, juga doa-doa panjang milik para hamba yang meminta sesuatu.
Pendingin ruangan berdesis samar. Suaranya kalah oleh sutil dan kuali yang beradu dan kelak melahirkan makanan. Bawang putih dipotong panjang, cabai merah, sedikit cabai rawit agar menambah rasa pedas, dan sejuta bahan lainnya yang biasa digunakan dalam pembuatan sarapan bernama nasi goreng.
Kepulan asap yang tercipta segera keluar melalui jendela yang letaknya persis di hadapan kompor. Nyala apinya sedang, sementara tangannya lincah kongsreng sana kongsreng sini. Demikianlah hobi memasak seorang ibu paruh baya yang masih energik sekali.
“Kavian! Udah bangun, belum?” Yuli memekik kencang. Jarak antara dapur dan kamar orang yang disebutnya dipisahkan oleh ruang makan dan kamar mandi. Khawatir yang dipanggil belum bangun, perempuan itu pun memekik sekali lagi.
“Udah daritadi, Ma,” kata yang dipanggil ketika pintu kamarnya terbuka.
Kavian, manusia muda, usia 16 tahun, dan keluarganya cemara. Rambutnya, yang menjuntai sampai alis, berantakan. Kalau disisir mungkin sekali dua kali akan tersangkut di gigi-gigi sisirnya. Wajahnya bercetak garis panjang di beberapa bagian, upah dari tidurnya yang jabrah. Namun, bagaimanapun bentuknya, sekalipun baru bangun tidur, dia tetap dicintai kedua orang tuanya, yaitu Yuli Astuti dan Darsa Haidar.
“Ayo mandi cepat! Jangan sampai telat. Masa baru dua minggu sekolah udah telat.” Yuli menyindir.
“Gimana mau mandi? Papa aja masih di kamar mandi.” Kavian berjalan mendekati pintu kamar mandi, lalu dia mengetuk. “Pa! Cepatan mandinya! Jangan melamun!”
Semula kamar mandi itu hening, tetapi tiba-tiba terdengar bunyi air yang disendok dari bak penampung. “Sabar! Lagi panggilan alam!”
“Mau dibantu, Ma?” Kavian telah beralih. Begitu mendengar pernyataan Darsa, seketika menjauh dari kamar mandi. Dia tahu, panggilan alam ayahnya sudah seperti hal sakral dan tidak dapat diganggu gugat.