Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #4

Bab 2

Keran-keran plastik menempel kuat di dinding yang berlapis keramik biru. Berjejer rapi dan berjarak setengah meter satu sama lain. Di bawahnya, terdapat penampung air panjang yang sedikit miring beberapa derajat, sementara di ujungnya tertanam lubang pengalir air menuju got.

Keran-keran itu mulai mengucurkan air. Ada yang mengalir deras, ada pula yang mengalir kecil. Keduanya sama-sama mengalirkan air, tetapi yang membedakan ialah kesadaran akan air tersebut yang mestinya digunakan secukupnya. Alih-alih mengindahkan stiker yang mengimbau penggunaan air secukupnya di sudut tempat tersebut, beberapa orang justru abai.

Seorang yang patuh menghidupkan keran dengan air kecil membungkuk seraya membasuh kedua tangan. Bibirnya yang pucat bergumam kecil, menyebut niat atas nama Tuhan, kemudian perlahan mulai berkumur-kumur sebanyak tiga kali. Wajahnya semula seperti bunga yang kehilangan mekarnya, tetapi begitu terbasuh, segar kembali. Di sebelahnya, tanpa dia sadari, ada yang mencuri-curi pandang mengamati gerakannya, termasuk ketika membasuh kepala dan leher bagian belakang yang lebih cepat daripada bagian lain. Tidak lain dan tidak bukan Kavian.

Zuhur baru saja berkumandang bersamaan dengan waktu istirahat yang lamanya sampai satu jam kemudian. Para siswa bubar dari kelas. Sebagian memilih ibadah yang utama, sebagian lain segera ke kantin yang lebih menggoda. Kini yang memilih ibadah lebih dulu sedang menjalankan ibadahnya. Saf-saf terisi penuh, seluruh pandangan mereka ditundukkan, dan fokus memuja dan mengagungkan Tuhan.

“Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin ‘sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam’.”

Kata orang, hidup adalah doa yang panjang. Doa-doa yang terus mengalir seperti air dari hulu ke hilir yang titik perhentiannya berupa lautan luas. Dalam lautan doa-doa itu, berbagai macam harapan dimohonkan. Mulai dari ampunan, harta, dan sebagainya yang manusia inginkan. Namun, pada salah satu doa itu, ada yang unik. Ada yang doanya berisi ketidaktahuannya ingin berdoa apa sebab pemilik doanya takut tidak pantas untuk berdoa.

Selesai rangkaian salat, di teras musala, Kavian diajak salah satu teman kelasnya bernama Tama untuk ke kantin. Di sana, Kavian melihat juga teman semejanya, Hilal, sedang duduk di batas suci, sibuk mengikat tali sepatu. Keduanya pun menunggu Hilal karena dalam pikiran keduanya, dia akan ikut.

“Kok ke sana?” Pertanyaan itu keluar dari Kavian begitu melihat teman semejanya yang justru berjalan menuju tangga lantai dua. Selain ucapannya, tangannya pun ikut terulur menahan Hilal. “Kita mau ke kantin. Yuk, bar—”

Belum selesai ucapannya, Hilal telah menarik tangannya dengan cepat. Gerakannya kaget dan defensif, seolah sentuhan Kavian adalah bara api. “Aku ke kelas. Maaf.”

“Ya udah, kita aja,” kata Tama santai, seolah sudah terbiasa dengan kejadian tersebut, membuyarkan fokus Kavian yang masih menatap kepergian Hilal.

Kantin lebih riuh lagi, jika dibandingkan dengan pagi hari. Hawa panas dari luar bangunannya sedikit berdampak ke dalam, tetapi untungnya berhasil teredam dengan adanya kipas angin di banyak dinding dan tempat.

Selesai memesan, keduanya duduk pada salah satu meja yang di sebelahnya terdapat kipas. Mereka mengobrol ringan diiringi buaian angin yang sejuk. Obrolan mereka berputar di sekitar pengalaman Kavian sebagai siswa baru yang baru masuk dua minggu lalu di sekolah ini.

“Kalau dibandingin sama sekolah lo sebelumnya, bagusan ini atau yang lama?”

Lihat selengkapnya