Waktu bagai air sungai yang mengalir deras: ada, terasa, tetapi tidak dapat dihentikan jalannya. Bahkan, untuk sekadar melambatkan pun tidak akan ada yang pernah bisa. Dalam arus yang tidak kenal ampun itulah hari Rabu, Kamis, dan Jumat berlalu begitu saja. Usaha Kavian untuk mendekati teman semejanya yang misterius itu sia-sia, tidak ada kemajuan, dan justru dapat dikatakan berbuah kemunduran.
Sejak hari Selasa minggu lalu, Hilal menjadi sulit didekati Kavian. Setiap hari Hilal hanya meninggalkan tasnya di kursi dan muncul masuk ke kelas ketika bel berbunyi, sedang setiap pulang dia menjadi siswa pertama yang melewati gerbang sekolah. Dia sengaja menghindar dan bersitatap dengan Kavian selain di jam pelajaran. Bahkan, di jam pelajaran pun Hilal berusaha seminimal mungkin berkomunikasi dengan Kavian.
Rabu, Kavian berusaha mendekat menggunakan cara paling sederhana, yaitu meminjam pulpen dengan alasan miliknya telah habis dan lupa beli lagi. Hilal memberikan segera, tetapi tanpa melihat, tanpa bertatapan, dan tanpa bicara apa-apa.
Kamis, ketika istirahat Kavian membeli dua buah roti cokelat, begitu diberikan salah satunya kepada Hilal di kelas, dia menolak dengan alasan sedang berpuasa.
Puncaknya Jumat. Hari itu Jakarta sedang panas-panasnya, hampir sebagian besar orang di sekolah membeli minuman dingin, bahkan baju-baju lengan panjang para siswa digulung sampai lengan atas. Namun, Hilal justru tetap memakai hoodie-nya, seolah dia tidak merasakan panas sama sekali atau mungkin berusaha tidak merasakannya.
Akhirnya, Kavian memilih menyerah. Dia membiarkan akhir pekan berlalu tanpa memikirkan teman semejanya. Sampai Senin pun datang.
Hari ini, selepas upacara, Hilal kembali menghilang dari kelas. Upacara selesai setengah jam sebelum bel pelajaran pertama berbunyi, memberi waktu bagi para siswa yang mendapat jadwal olahraga untuk berganti pakaian tanpa diburu. Suasana kelas ramai oleh suara gesekan resleting dan tawa kecil dari siswa laki-laki, sementara seluruh yang perempuan serempak menuju kamar mandi.
Di toilet yang letaknya agak ujung dan jarang digunakan kebanyakan orang, Hilal berdiri mondar-mandir. Dia tidak dapat berpikir dengan tenang karena pakaian olahraganya tertinggal di rumah dan teleponnya sejak tadi tidak diangkat uminya. Keringat di pelipis mengucur, padahal jam pelajaran belum dimulai.