Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #6

Bab 4

Mata itu memerah. Urat-urat kecilnya muncul mengelilingi bagian putih, sedang sisi hitamnya sekelam malam. Napasnya memburu ibarat hewan buas yang tengah memangsa calon makanannya. Rasa lelah selepas bekerja menguap seketika, digantikan amarah saat pesan singkat dari seorang teman masuk tentang anaknya yang terlambat pada mata pelajaran olahraga.

Bibir pria baya itu meletup-letup, membacakan kisah-kisah anak durhaka yang berakhir tenggelam dalam neraka. Dia menghukum di dalam kamar yang tertutup rapat pintu dan tirai jendelanya. Kamar itu bercat putih, lantai putih, dan memang sebagian besar berwarna putih karena yang dia yakini putih lambang kesucian.

“Mau jadi apa kamu? Sudah saya sekolahkan dengan susah payah, sampai-sampai saya harus banting tulang, tapi sekadar olahraga saja kamu terlambat?!”

Satu cambukan terdengar. Itu satu-satunya yang terdengar sebab yang dicambuk hanya memekik dalam hati. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan mati-matian agar tidak mengeluarkan suara yang dapat menyayat jiwa uminya. Air matanya merembes, sedang lantai hanya menerima titikannya dengan rela. Lantai itu selalu menjadi saksi atas apa yang dialami Hilal Sirri Azhari dan atas siksa yang dilakukan Azhari Rahman.

“Abi … sudah … saya mohon ….” Istri Azhari berusaha memegang lengan yang menggenggam sabuk. Perempuan itu sampai-sampai bersujud dan mencium kaki yang disebutnya abi.

“Dia teledor! Anak laki-laki tidak boleh tidak disiplin! Mau jadi imam seperti apa dia, kalau sekadar pakaian olahraga saja terlupakan? Bisa-bisa anak dan istrinya masuk neraka karena tidak becus jadi imam nanti!”

“Sudah, Bi … saya mohon. Saya yang salah, saya yang lupa memasukkan pakaiannya ….”

“Itu lebih salah lagi! Harusnya dia yang masukkan sendiri! Sudah baligh, sudah umur 16! Dan kamu juga, Suhunia, berdosa kamu berbohong seperti itu!” Satu cambukan lagi terdengar. Cambuk itu tiba di atas punggung istrinya yang masih bersujud memohon.

Suhunia Syaidah menutup mulutnya kuat-kuat. Perih merajalela di punggungnya.

“Ampun, Bi. Hilal minta maaf ….” Demi agar tidak ada cambukan yang jatuh di punggung uminya, Hilal kini bersujud juga di kaki abinya yang satu lagi. Keduanya bersujud pada seorang pencari nafkah yang juga imam di keluarga tersebut.

Di rumah lain, bunyi sendok dan piring bertemu sesekali. Suasana berbanding terbalik dengan rumah jahanam Azhari. Tidak ada penyiksaan, tidak ada punggung perih yang berapi-api.

Di meja makan duduk tiga orang anggota keluarga, yaitu Kavian, Darsa, dan Yuli. Mereka sedang makan malam, meski sebenarnya yang sibuk makan hanyalah Darsa dan Yuli saja. Kavian lebih banyak memainkan sendok di tangannya, lebih banyak merenung, lebih banyak yang dipikirkan daripada biasanya.

Hari ini ada hal yang tidak dia sangka-sangka. Bukan perihal keluarganya, bukan pula perihal sekolah barunya, melainkan perihal teman semejanya. Pagi tadi, selepas upacara, niat hati hanyalah berkeliling mengenal sudut sekolah demi proses adaptasi yang lebih baik lagi. Namun, langkah kakinya justru membawanya ke toilet yang letaknya agak ujung. Toilet yang terasa lebih sunyi dan … menyeramkan, tetapi entah mengapa dia tetap masuk ke sana.

Toilet itu rupanya tidak buruk. Lampu masih menyala dengan baik, masih ada cermin besar meski di sudutnya tidak terlalu utuh, dan tidak kumuh. Semakin berjalan masuk, langkahnya terhenti karena salah satu bilik itu bergerak setengah terbuka sendiri. Di sanalah dia menemukan sesuatu yang lebih menyeramkan daripada hantu.

Lihat selengkapnya