Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #7

Bab 5

Pagi selalu sama: Menyenangkan. Matahari terbit, sinarnya menembus dan memberi bayangan daun-daun, serta suhu mulai menghangat. Pagi selalu seperti itu, setidaknya bagi sebagian besar orang. Namun, apakah pagi menyenangkan bagi orang yang disabet semalam? Tentu kita tahu jawabannya: Tidak!

Pagi tidak lagi sama untuk Hilal. Bahkan, tidak benar-benar ada pagi yang menyenangkan sejak dia lahir. Tidak pernah sekalipun rasanya hati menghangat, terutama di dekat abinya.

Hilal tidak seperti kebanyakan manusia muda umumnya, yang senang hura-hura, jalan sana-sini, dan pulang larut malam setelah berkumpul dengan teman sebaya. Dia jauh dari kata manusia muda, jika secara pemikiran dan perasaan. Dia dewasa lebih dahulu sebelum waktunya. Sejak kecil tidak pernah merepotkan, tidak minta dibelikan mainan meski dia ingin, tidak pernah ini, tidak pernah itu. Namun, dalam dunianya yang penuh dengan kata tidak itu, dia tetap menerima cambukan dari ayahnya, seolah tidak adalah dosa dan patutlah dihukum.

Sekarang, dalam kamarnya, yang juga putih seperti kamar abinya, dia merintih kecil menghadap samping. Sejak semalam dia tidur dengan posisi seperti itu. Setiap tubuhnya tidak sengaja telentang, rasanya seperti disetrum kuat dan membuatnya terbangun dari tidurnya. Muaranya pagi ini, dia demam.

“Sabar, ya, Lal. Semoga Allah memberi kita kekuatan,” ucap Suhunia lembut dan pelan, lebih seperti berbisik di telinga anak semata wayangnya. “Maaf, Umi gak bisa berbuat apa-apa semalam.”

Hilal menatap mata Suhunia yang berkaca-kaca. Senyum yang kini tersungging di bibir uminya terasa dipaksakan. Terlalu getir untuk membohongi diri sendiri. “Hilal yang salah, Mi.”

Suhunia mengusap kepala anaknya. “Umi bangga punya anak seperti Hilal.” Tapi mungkin gak seharusnya Umi melahirkan Hilal di dunia yang kejam ini.

“Umi … Hilal gak sanggup untuk sekolah hari ini. Sakit ….” Hilal berkata lirih. Matanya beralih menatap meja nakas. “Tapi handphone Hilal ….”

Suhunia mengangguk. “Handphone Umi juga … tapi gak apa-apa, nanti coba Umi izin ke Abi, ya?”

Lihat selengkapnya