Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #8

Bab 6

Sehari selanjutnya. Kavian menatap ponselnya yang menampilkan pesan bercentang satu. Pesan itu dikirim semalam dan berisi beberapa foto tugas. Namun, sampai pagi ini, tidak ada kelanjutan centang satu itu berubah menjadi dua ataupun menjadi biru.

Kavian meletakkan ponselnya di atas meja. Posisi mejanya berada di baris kelima, baris yang letaknya paling belakang. Hanya kursi itu satu-satunya yang tersisa ketika pertama kali dia melangkah masuk ke dalam kelas ini. Hanya satu orang pula di kelas XI IPA 3 yang duduk seorang diri di sana, yaitu Hilal, yang kini menjadi teman semejanya.

Menilik pertama kali Kavian duduk di sebelah Hilal, dia merasa suasana meja belakang itu seperti lautan yang kehilangan ombaknya: Terlalu hening dan sepi. Atau seperti lautan yang lenyap isinya: pergi ikannya, tidak tumbuh karangnya. Saat itu dia tidaklah tahu apa yang terjadi dan hanya berpikir dirinya perlu beradaptasi kembali dari sekolah sebelumnya. Namun, lambat laun, perasaan asing itu rupanya makin menjadi-jadi. Perlahan dia menyadari bukan dia yang salah, tetapi teman semejanya yang “berbeda” dibanding manusia muda pada umumnya.

Di sampingnya, Hilal baru saja duduk dan melepaskan tas dari genggaman tangannya. Hoodie lagi-lagi menutupi sebagian besar wajahnya yang kini dijatuhkan pemiliknya di antara dua tangan yang membentuk bantal dadakan di atas meja. Dia masuk tepat seperempat jam sebelum bel berbunyi di pukul tujuh pagi.

Kavian hendak menyapa. Mulutnya telah sedikit terbuka, tetapi dia urungkan niat baiknya. Dia mengambil kembali ponselnya dan dimainkan sampai bel masuk berbunyi. Adapun dia mengurungkan niatnya itu disengaja karena dia mengingat pesan Yuli dua malam lalu. “Ibarat rumah … pintu yang dikunci dari dalam itu gak akan pernah bisa dibuka dari luar, kecuali pemiliknya sendiri yang bersedia memutar kuncinya. Kalau kamu paksa dobrak, kamu cuma bakal merusak pintunya. Kamu malah bisa bikin dia makin terluka.”

Waktu berembus tanpa terasa. Pelajaran demi pelajaran berlalu hingga akhirnya bel istirahat berbunyi nyaring, disusul kumandang azan Zuhur.

Di tempat wudu, pemandangan yang sama terulang kembali. Kavian melihat Hilal membasuh leher belakang, tengkuknya, dengan gerakan kilat, seolah air serupa zat asam yang menyakiti kulitnya. Bedanya, kali ini Kavian tidak lagi bertanya-tanya kenapa? Dia tahu jawabannya dan pengetahuan itu membuatnya menelan pahit kenyataan.

Selepas salat, Hilal berjalan kembali ke kelas. Kavian mengekor di belakangnya dalam diam. Tidak ada sapaan, tidak ada basa-basi. Dia hanya menjaga langkahnya tetap ada di sana, menjadi bayangan yang tidak mengganggu, tetapi setia menemani.

Sementara Hilal, dia tahu di belakangnya ada yang mengikuti, tetapi dia abaikan. Kepalanya masih sedikit pusing. Dia tidak ingin menambah beban pikiran yang tidak perlu. Dia hanya ingin tenang hari ini.

Lihat selengkapnya