Keluarga. Itu satu kata yang sulit rasanya untuk dipahami seorang Hilal Sirri Azhari. Dia tahu apa definisinya. Tahu siapa orang-orang yang disebut dengan keluarga. Dia amat mengetahuinya. Namun, dia tidak tahu apakah keluarga itu hanya sebutan untuk yang memberikan rasa nyaman atau juga sumber duka, luka, dan neraka?
Dalam rumah yang hampir sepenuhnya bercat putih itu, Suhunia duduk tegak di sofa ruang keluarga—yang juga ruang tengah. Tangannya pandai menyisipkan jarum dan menariknya, sedang matanya yang agak sayu itu fokus menatap daster motif polkadot yang sedang dijahit. Tidak ada suara lain di ruangan itu, hanya gesekan halus benang yang menembus kain.
Di ruangan lain, Hilal baru saja mencium dan menutup Alquran. Dia memakai baju koko dan sarung. Selepas salat Zuhur, dia membaca kitabnya sampai habis satu juz. Kini, dia memegang perutnya yang lapar seraya berjalan dan duduk di samping Suhunia.
“Abi biasanya udah pulang. Kok ini lama, ya, Mi?” tanya Hilal, melirik ke pintu depan, lalu ke jam dinding yang menunjukkan pukul setengah satu siang.
Suhunia berhenti sejenak dari pekerjaannya. Dia tersenyum kecil, kemudian dia mengusap pelan kepala anaknya. “Sabar, ya? Insyaallah Abi pulang sebentar lagi.” Begitu selesai ucapannya, mendadak perutnya agak terasa perih, tetapi dia tahan agar anaknya tidak tahu bahwa dia juga lapar.
Hampir pukul satu siang, suara motor Honda PCX 150 terdengar di halaman. Azhari telah tiba di rumah. Dia baru saja menempuh enam kilometer perjalanan dari gudang kembang api yang dikelolanya di pinggiran kota. Meski jadwal kerjanya Senin sampai Jumat, seringkali hari libur pun dia tetap harus tersundut ke sana. Sebagai orang kepercayaan yang memegang operasional penuh, dia tidak memiliki kemewahan untuk benar-benar melepas tangan karena satu percik kesalahan kecil dapat merusak pesta orang banyak.
Mendengar suara familiar itu, Suhunia tersentak. Jantungnya berpacu kencang. Dengan tangan gemetar, dia menyambar daster polkadot itu dan menjejalkannya secara asal ke balik bantal sofa. Dia belum sempat merapikan benang yang berserakan ketika pintu depan terlanjur terbuka.
Wajah Azhari memerah akibat panas, tangannya membenarkan posisi peci hitam yang agak miring didera angin. Matanya langsung menyapu ruangan yang hening.
“Assalamualaikum,” ucap Azhari, nadanya rendah, tetapi seolah mengintimidasi.
“Waalaikumussalam, Bi. Baru pulang?” Suhunia menyalami tangan suaminya. Dia dapat mencium aroma keringat yang bercampur dengan bubuk mesiu.