Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #10

Bab 8

Shallallahu ala Muhammad, shallallahu alaihi wasallam.

Shallallahu ala Muhammad, shallallahu alaihi wasallam.

Shallallahu ala Muhammad, shallallahu alaihi wasallam.

Marhaban ya marhaban ya marhaban, marhaban jaddal Husaini marhaban.

Ribuan bibir bergemuruh mengucapkan selawat pada Nabi Muhammad. Menggetarkan panggung megah tempat Azhari berdiri, seakan hendak meruntuhkan langit malam Jakarta dengan kerinduan yang membuncah. Dari tempatnya itu, dia dapat melihat ribuan jamaah berbaju putih yang duduk dan kepalanya terombang-ambing kanan dan kiri. Mata mereka terpejam, hanya bibirlah yang terbuka lebar untuk memuja junjungannya.

Malam itu malam Peringatan Maulid Nabi Muhammad di tahun 2016, tepat di hari Senin tanggal 12 Desember. Di tengah panggung yang bermandikan cahaya lampu sorot itu, telah duduk sosok yang menjadi pusat semesta bagi ribuan orang di sana: Gus Ledam. Seorang gus muda berusia 20-an yang diyakini memiliki garis keturunan bersambung langsung pada Nabi Muhammad sekaligus digadang-gadang sebagai pembawa keselamatan masyarakat Indonesia di era modern.

Azhari berdiri tegap, jaraknya hanya dua meter dari kursi kebesaran itu. Dia memandang punggung sang Gus dengan rasa bangga yang meletup-letup, seakan tiap membersamai Gus Ledam hatinya selalu hangat dan lebih dekat hubungannya dengan Allah. Namun, kebanggaan itu tidak berlangsung lama.

Dari bagian belakang panggung, tempat tunggu para tamu besar undangan, polisi-polisi berdatangan. Mobil yang mereka kendarai senyap, tidak ada pula lampu rotator biru maupun merah yang terlihat, sehingga kedatangan itu teramat mengejutkan bagi seluruh pihak. Pengeras suara yang memutar iringan selawat seketika hening, ribuan bibir itu terkatup rapat, sedang mata mereka kini terbuka. Kebingungan melanda semua orang, tidak terkecuali Azhari sebagai manajer perjalanan Gus Ledam. Dia terpaku ketika polisi telah mengerubungi gus kebanggaannya, bukan untuk mencium tangan dan meminta berkah, melainkan untuk menangkap atas dugaan—

“Saudara kami tangkap!” Salah satu polisi berpakaian preman mencengkeram lengan Gus Ledam, menunjukkan surat perintah dengan tegas. Suaranya tidak terdengar sampai ke penonton, tetapi seperti meledak tepat di telinga Azhari. “Saudara ditahan atas dugaan tindak pidana pencabulan anak di bawah umur.”

“Sembarangan! Bapak tahu siapa beliau?!” Azhari yang sadar dari keterkejutannya langsung menerjang maju, berusaha menepis tangan petugas dari tubuh suci gurunya. Di bawah panggung, para jamaah ikut riuh, berteriak histeris karena junjungan mereka diperlakukan bagai kriminal, meski mereka sendiri pun belum paham “dosa” apa yang dituduhkan.

Keributan di panggung itu berakhir dengan Gus Ledam yang diseret paksa ke mobil petugas. Kini, di bawah lampu ruang penyidikan yang dingin, suasana berubah 180 derajat. Azhari berdiri tegang di sudut ruangan, napasnya tertahan. Satu per satu pertanyaan tajam dilemparkan penyidik, tetapi jawaban Gus Ledam sejak awal tetap sama. “Demi Allah! Saya tidak melakukan apa yang kalian tuduhkan! Ini fitnah keji!”

Lihat selengkapnya