Azhari memberhentikan motornya tepat di gerbang sekolah. Sesaat setelah berhenti, orang yang menumpang itu segera turun dan menjulurkan tangannya. “Makasih banyak, Abi. Assalamualaikum.”
Tangan Azhari dicium. “Waalaikumussalam. Ingat, belajar yang baik! Awas kalau sampai Abi dengar kamu gak bawa pakaian olahraga lagi.”
Hilal mengangguk patuh, kepalanya tertunduk. Dalam hati, dia sudah memastikan "pakaian pembawa bencana" minggu lalu itu telah dia benamkan paling dulu ke dalam tas.
“Dan jangan aneh-aneh, apalagi sampai berbuat dosa,” tambah Azhari, matanya memindai murid-murid lain dengan tatapan curiga. “Nanti sore langsung pulang, jangan ke mana-mana setelah pulang sekolah.”
Tanpa menunggu jawaban putranya, Azhari langsung memacu motornya pergi, meninggalkan asap knalpot yang membaur dengan debu jalanan.
Selepas mata pelajaran olahraga, yang syukurnya hari ini tidak ada kejadian terlupa pakaiannya, murid laki-laki kelas XI IPA 3 masuk ke dalam kelas. Mereka hendak mendinginkan badan di bawah putaran kipas angin, sementara murid perempuan lebih memilih menyingkir ke kantin untuk membeli jajanan penyegar dahaga.
Seketika, suasana kelas berubah riuh ibarat pasar. Aroma keringat remaja bercampur deodoran menguap di udara yang panas. Tanpa rasa canggung, “teman-teman” Hilal melepas kaus olahraga mereka yang basah, melemparnya sembarangan ke atas meja, lalu bertelanjang dada sambil mengipas-ngipas tubuh dengan kipas, buku tulis, atau apapun sebelum berganti ke seragam putih abu-abu.
Di tengah pameran "aurat" massal itu, Hilal sudah duduk terpaku di bangkunya. Dia adalah satu-satunya yang sudah rapi. Dia berganti pakaian dengan kecepatan kilat di toilet biasanya. Kancing baju seragamnya kini sudah terpasang sempurna sampai ke leher, tidak menyisakan celah sedikit pun.
Matanya menatap lurus ke depan. Tepat di hadapannya, Kavian duduk santai di atas meja dengan bertelanjang dada, membiarkan tubuhnya diterpa angin dari buku tulis yang dikibaskannya.
Tatapan Hilal terkunci pada punggung itu. Punggung yang kecokelatan terbakar matahari, sedikit berkeringat, tetapi … bersih. Tidak ada bilur merah memanjang. Tidak ada bekas kebiruan, bahkan yang telah hitam legam. Punggung itu hanyalah hamparan kulit remaja normal yang tumbuh tanpa rasa takut.
Hilal menelan ludah. Tangannya tanpa sadar bergerak ke belakang, meraba punggungnya sendiri dari balik lapisan kain seragam yang dikancing rapat. Di sana, masih dapat dirasakan kulitnya yang perih bergesekan dengan sandaran kursi akibat cambukan-cambukan beberapa hari lalu, minggu-minggu lalu, bahkan bulan-bulan lalu. Semua cambukan itu seperti selalu membekas. Mungkin lukanya telah kering, tetapi rasa sakitnya … selalu terasa.
“Woy, Lal! Awas kesambet siang bolong!”