Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #12

Bab 10

Ada satu hal yang amat tidak disukai seorang Kavian dari waktu ke waktu, bahkan dari satu sekolah lama ke sekolah yang baru, yaitu mata pelajaran Matematika. Mata pelajaran itu, baik yang wajib ataupun peminatan di kelas IPA, sangatlah sulit. Lebih sulit daripada mengikhlaskan jauh dari teman karibnya di sekolah lama. Lebih sulit dari pelajaran Fisika dan Kimia, meski ketiganya memiliki kesamaan: Ada angka dan perhitungan. Namun, untungnya, di sisi Kavian kini ada seorang teman yang baik hati. Setidaknya menurutnya baik hati, meskipun dari raut wajah temannya agak tertekan sebab sedari tadi tidak juga masuk apa yang dijelaskan kepada Kavian.

“Lo pinter banget, Lal,” puji Kavian. Tangannya masih memangku wajah yang bagian pipinya mulai memerah. Dia sudah sejak sebelas menit lalu seperti itu.

Hilal yang berusaha menjelaskan dengan mudah, jarinya sampai menunjuk-nunjuk setiap angka, sekarang terdiam sejenak. Matanya semula fokus menatap halaman 34 di buku paket Matematika, tetapi kini beralih sesaat.

Di luar kesibukan keduanya, tepatnya di meja-meja depan, di meja-meja selain meja Hilal dan Kavian, para murid gaduh. Satu dua menggaruk tengkuknya, satu dua mengacak-acak rambut, satu dua sudah terlihat lelah di wajahnya.

Wallahi, i’m tired.” Si Ketua Kelas, Tama, mengeluh. Wajahnya kini diletakkan di atas meja. Teman di sampingnya, Abyan, juga ikut meletakkan wajahnya di atas meja.

“Ayo, kita pulang aja, Tama,” celetuk Abyan.

“HILAL! GUE UDAH NYERAH! TOLONG BANGET JELASIN DI DEPAN, PLEASE BANGET!” Tiba-tiba seorang teman lain memekik. Buku paketnya digenggam kuat-kuat. Sementara itu, suaranya yang kencang membuat seluruh murid di kelas ikut mengalihkan fokus pada si Penolong Matematika, Hilal.

Hilal melompat kecil. Dia amat terkejut dengan pekikan itu dan pasang-pasang mata yang menatapnya. Ditatap seperti itu membuatnya merasa ingin segera pergi dari kelas, tetapi sayang seribu sayang—

“Ayo, please, Lal. Lo penolong kita yang fakir pelajaran Matematika.”

“Betul, Lal. Please …”

“Lagi pula Pak Bambang belum jelasin sama sekali, tapi masa langsung dikasih tugas?”

“Gue udah cari di Brainly, gak ada jawabannya.”

Hilal gemetar. Dia benci menjadi pusat perhatian. Namun, desakan itu makin kuat. Dengan ragu, dia berdiri, berjalan kaku ke papan tulis, mengambil spidol, dan mulai menulis.

Bukan pidato, bukan penjelasan bertele-tele. Hilal hanya menuliskan runtutan rumus, jawaban dengan kecepatan tangan yang mengerikan, dan penjelasan padat. Angka-angka yang bagi murid lain memusingkan, bagi Hilal tersusun rapi seperti barisan tentara. Begitu kata terakhir diucapkan, dia buru-buru meletakkan spidol dan setengah berlari kembali ke bangkunya, menunduk dalam-dalam.

“GILA! Jadi gitu yang bener!” sorak Tama sambil bertepuk tangan setelah mendengar penjelasan Hilal. “Makasih, Hilal!”

Satu kelas bersorak lega. Hilal, di tempat duduknya, menyembunyikan senyum tipis di balik tundukan kepalanya.

Lihat selengkapnya