Alarm ponsel berteriak panjang pada pukul tiga pagi. Getarannya membuat telinga sensitif seorang istri sekaligus ibu segera membuka mata terburu-buru. Namun, bukan kegelapan yang menyambutnya, melainkan cahaya putih yang menyilaukan. Rupanya sudah ada yang menyalakan lampu utama dan tidak peduli apakah cahaya itu menusuk mata seorang istri sekaligus ibu tersebut atau tidak.
Kasur yang Suhunia gunakan untuk tidur itu besar, cukup untuk dua orang, tetapi kini hanya tersisa dirinya seorang. Hal tersebut membuatnya segera berdiri dan beranjak cepat menuju pintu kamar, meski kepalanya terasa pusing. Pintu itu terbuka padahal belum sempat diraih olehnya. Ketika terbuka, di luar berdiri gagah suaminya yang sedang merindukan Tuhannya.
Azhari baru saja berwudu.
“Bi … sudah bangun?” tanya Suhunia seraya merapikan kerudungnya yang miring karena tidur.
Tatapan Azhari tidak ramah. “Ya. Saya bangun lebih dulu dibanding alarm kamu, Suhunia.”
Suhunia menunduk. “Maaf, Bi.”
Azhari melengos. “Bangunkan Hilal. Saya sedang tidak ingin marah.”
Suhunia mengangguk. Dia buru-buru keluar kamar dengan memiringkan badan di ambang pintu tempat suaminya berdiri.
“Hilal?” Setelah dirinya berwudu lebih dulu, Suhunia mengetuk pintu kamar anaknya tiga kali. Setelah yakin tidak ada jawaban, barulah dia memasuki kamar manusia muda tersebut.
Kaki kanannya melangkah masuk. Berbanding terbalik dengan kamar utama yang terang benderang, kamar ini masih tenggelam dalam kegelapan pekat. Kamar anaknya terasa pengap, seolah udara di dalamnya takut untuk bergerak bebas. Dinding-dindingnya yang dicat serba putih, persis meniru kesucian kamar dirinya dan suami, kini tampak agak abu-abu pucat dimakan kegelapan dini hari.
Di kamar itu, sejauh mata Suhunia mengelilingi setiap sisi kamar yang samar-samar, tidak ada poster band di dinding, tidak ada stiker di lemari, tidak ada kekacauan khas remaja laki-laki. Ruangan itu terlalu steril, terlalu bersih, dan terlalu sunyi. Bahkan, dibandingkan kamar seorang remaja 16 tahun, lebih mirip bangsal rumah sakit atau sel isolasi. Satu-satunya perabot yang menonjol hanyalah meja nakas di samping tempat tidur, tempat Hilal biasa meletakkan ponsel yang kini layarnya gelap, sama gelapnya dengan nasib pemilik kamar tersebut di rumah ini.
Suhunia memutuskan tidak menyalakan lampu. Dia tidak tega merusak tidur anaknya dengan cahaya yang menyentak seperti yang dilakukan Azhari padanya tadi.
“Hilal … bangun, Nak.” Suhunia menutup setengah pintu kamar, kemudian berjalan mendekat. Dia dapat melihat anaknya yang tertidur miring seraya memeluk guling.