Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #14

Bab 12

Azhari memarkirkan motornya di area khusus di luar pabrik. Kendaraan tidak diizinkan masuk ke area inti. Setelah itu, dia berjalan kaki menuju gerbang utama.

“Pagi, Pak Azhar,” sapa seorang satpam yang duduk di pos jaga. Di tangannya terbuka sebuah buku tebal yang langsung buru-buru dia tutup begitu melihat bosnya datang. Pos tersebut hanya sepetak, berukuran 1,5 m x 1,5 m. Dinding-dindingnya terbuat dari baja ringan dan beratap panel fiber.

“Pagi.” Azhari menyapa balik dan berhenti di samping pos jaga. Mata Azhari menyipit tajam ke arah buku yang kini disembunyikan Samsul di bawah meja pos. “Buku apa itu, Sul?”

“Eh … buku novel, Pak. Punya anak,” jawab Samsul dengan gagap.

Azhari menggeleng pelan, seakan melihat sebuah dosa besar. “Kamu dibayar di sini buat jaga gerbang, Sul. Buat pastikan gak ada bahaya yang masuk. Kalau matamu sibuk baca khayalan, siapa yang lihat kenyataan?”

Samsul menunduk, tidak berani membantah. “Daripada baca buku kayak gitu, lebih baik baca Alquran. Dapat pahala, hati tenang, gerbang juga selamat karena dijaga malaikat,” lanjut Azhari dengan nada dingin. “Simpan. Jangan sampai saya lihat lagi di jam kerja.”

“B-baik, Pak. Maaf.”

Tanpa menunggu permohonan maaf lebih lanjut, Azhari melangkah ke samping pos jaga. Tepat di gerbang masuk pejalan kaki, terdapat alas berupa karpet karet antistatis berwarna hitam yang cukup untuk dilalui dalam tiga langkah. Ada pula tulisan Injak Sebelum Masuk di tengah-tengah lantai tersebut, tetapi warnanya telah pudar sebagian.

Bagi orang lain, itu hanyalah karpet karet. Namun, bagi Azhari, itu seperti batas suci. Dia berdiri di atasnya. Menghentakkan kaki kanannya dua kali, lalu kaki kirinya. Ritual tersebut membuang listrik statis tubuh sebelum masuk ke area yang satu percikan kecil saja dapat menjadi bencana.

Samsul segera menekan tombol, membuka palang otomatis dengan wajah agak pucat.

Azhari melenggang masuk tanpa menoleh lagi. Langkah pertamanya di dalam area pabrik selalu membawanya ke rak sepatu khusus yang menempel di dinding luar kantor admin. Di sana, dia melepas sepatu kulit yang dipakainya dari rumah, lalu menggantinya dengan sepatu kerja antistatis miliknya. Sepatu itu bersih, dirawat diam-diam, seolah benda keramat yang melindunginya dari dosa kelalaian. Selesai berganti, fokusnya kini tertuju pada satu benda penting lainnya: Papan Jadwal Produksi yang tergantung agak miring di dinding.

Papan jadwal yang cat putihnya kusam dan sudut-sudut kayunya mulai mengelupas itu ibarat panduan harian Azhari. Dia tidak peduli tanggal berapa hari ini. Matanya langsung menyisir permukaan papan, mencari satu hal, yaitu tulisan spidol merah.

Lihat selengkapnya