Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #15

Bab 13

Selepas Isya, jalanan masih ramai. Kendaraan masih lalu-lalang dan anak-anak masih berkeliaran. Lampu-lampu jalan menyala terang di sepanjang jalan utama. Satu dua lampu tersebut dihinggapi laron, menjadi pesta besar cecak yang sigap menyambar dari balik tiang. Namun, keriuhan jalanan itu seolah teredam begitu memasuki pekarangan salah satu rumah bercat krem di blok tengah.

Di teras rumah, sebuah mobil sedan keluaran tahun 90-an, yang catnya masih mengilap terawat, terparkir rapi di garasi sempit. Di bawah temaram lampu teras, bodi logamnya memantulkan cahaya redup, tampak seperti kawan lama yang tengah tertidur lelap. Tidak ada penyok, tidak ada goresan, seakan menolak tua meski usianya telah senja. Mobil itu dirawat dengan harap dan obsesi kecil seorang insinyur sipil yang menghargai struktur serta kenangannya.

Pemiliknya, Darsa Haidar, sedang duduk di meja makan. Malam ini, dia merasa menjadi pria paling kaya di dunia. Bukan karena jabatannya, melainkan karena dikelilingi dua kesayangannya: Istri di sisi kanan dan anak di sisi kiri.

“Pa, udah! Jangan banyak-banyak.” Suara Yuli memecah keheningan yang nyaman itu. Matanya menatap tajam ke arah suaminya yang baru saja hendak menyendok ulang tumisan cumi.

Darsa, yang tertangkap basah, hanya nyengir tanpa dosa. Tangannya menggantung canggung di udara. “Dikit lagi, Ma. Ini cumi asinnya juara dunia. Kalau gak dihabisin, nanti dia nangis.”

“Cuminya gak bakal nangis, tapi leher Papa yang bakal kaku,” balas Yuli telak. Dia menepuk pelan punggung tangan suaminya. “Inget, jaga pola makan. Minggu lalu kolesterolnya berapa? Terus, dokter bilang apa? Kurangin asin, kurangin santan.”

Darsa tertawa renyah, akhirnya menyerah dan menarik kembali tangannya. “Iya, iya, Sayangku. Ampun. Padahal tadi siang di kantor Papa makan gado-gado aja, lho.”

Yuli memutar malas bola matanya. “Lama-lama besok Mama masakin yang rebus-rebus aja, nih, buat Papa.”

“Jangan, dong! Bisa kurus kering Papa nanti kalau cuma dikasih makan rebusan,” protes Darsa dramatis, yang hanya dibalas decakan pelan oleh istrinya.

Merasa menang debat lawan suaminya, Yuli beralih mencari sekutu. Dia menatap piring putranya dengan antusias, ingin memastikan hasil eksperimen dapurnya hari ini sukses.

“Tuh, contoh Kavian. Makannya tenang, dinikmati, gak kayak Papa.” Yuli tersenyum lebar, menunggu pujian meluncur. “Gimana, Yan? Cuminya beda gak rasanya sama yang biasa? Tadi pagi Mama dapat bocoran resep baru dari ibu-ibu, gak tahu siapa namanya, tapi pas lagi belanja di tukang sayur. Katanya, kuncinya harus ditambah irisan daun jeruk sama sedikit gula aren, biar gurihnya nendang dan bau amisnya hilang. Lebih enak, ‘kan?”

Hening. Tidak ada jawaban antusias seperti yang Yuli harapkan.

Darsa menengok pada anaknya saat menyadari tidak ada sahutan dari sisi kirinya. Dia melirik ke arah kursi tersebut. “Yan?” panggil Darsa.

Kavian duduk di sana. Tangannya sesekali bergerak menyuapkan sesendok nasi dan cumi ke mulut, persis seperti yang dipuji ibunya. Namun, hanya sampai di situ. Rahangnya diam, tidak ada gerakan mengunyah. Makanan itu hanya tertahan di dalam mulut tanpa ditelan. Pikirannya melayang entah ke mana. Ponselnya tergeletak di samping piring, layarnya gelap, tetapi mata Kavian terus melirik ke sana setiap lima detik sekali, seolah ada yang dia tunggu dari benda tersebut.

“Yan.” Darsa memanggil, nadanya lebih serius, tetapi tetap santai. 

Hening.

Lihat selengkapnya