Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #16

Bab 14

Selasa di minggu kedua di bulan September 2020. Cahaya matahari pagi menyusup lewat celah ventilasi kelas, menyorot debu-debu yang menari di udara sejalan dengan keriuhan siswa yang mulai berdatangan. Namun, keriangan pagi itu sama sekali tidak menyentuh Hilal.

Di tengah arus siswa yang tertawa dan saling sapa di lorong, dia berjalan sendirian. Sebuah hoodie menudungi kepalanya, ditarik rendah sampai menutupi separuh wajah. Kedua tangannya disembunyikan di saku celana, sementara bahunya sedikit membungkuk, bukan karena berat beban di tasnya, melainkan untuk meminimalisir gesekan kain pada punggungnya yang masih berdenyut nyeri.

Hilal berjalan cepat. Matanya hanya terpaku kepada pergerakan ubin lantai yang dia pijak, menolak untuk mengangkat wajah, apalagi bersitatap dengan siapa pun. Baginya, sekolah bukanlah tempat untuk bersosialisasi, melainkan zona perang tempat dia harus bertahan hidup tanpa menarik perhatian sedikit pun.

Sesampainya di kelas, dia buru-buru duduk dan menyibukkan diri dengan membuka buku pelajaran hari ini. Itu caranya agar teman di sampingnya, yang sejak tadi menatapnya, tidak bertanya apapun.

“Pagi, Lal.”

Kavian menyandarkan siku di meja dengan santai, seolah tidak punya beban hidup sama sekali.

“Pagi.” Hilal menengok sedikit, kemudian jawab pelan. Hanya satu kata pendek. Namun, bagi Hilal, ucapannya sendiri seperti sebuah keasingan yang membingungkan.

Selama bertahun-tahun sekolah, dia sudah terbiasa menjadi “hantu”. Dia datang, duduk, belajar, lalu pulang tanpa meninggalkan jejak memori di kepala siapa pun. Teman-temannya yang lain menganggapnya transparan, ibarat dia hanyalah pigura di kelas yang tidak perlu disapa dan diajak bicara, tetapi Hilal mensyukuri itu. Menjadi tidak terlihat merupakan cara terbaik untuk menghindari masalah. Namun, sejak Kavian duduk di sebelahnya, dinding pertahanan itu … perlahan retak.

Anak baru itu, Kavian, tidak pernah absen menyapanya sejak awal. Entah itu sekadar basa-basi atau apalah itu, tetapi berhasil membuatnya merasa "terlihat". Ada perasaan asing yang menjalar di dada Hilal, sebuah rasa hangat yang aneh karena menyadari bahwa di dunia yang bising ini, ada satu orang yang menganggap keberadaannya nyata. Bahwa dia, Hilal, bukan hanya “sesosok”, tetapi juga manusia yang pantas disapa.

Tanpa disadari, Hilal tersenyum kecil di balik hoodie-nya.

Bunyi bel istirahat selalu sama: nyaring, memekak di telinga, tetapi memberikan kebahagiaan yang nyata. Para murid bubar dari kelas, satu dua berlarian menuju kantin, satu dua berlarian entah ke mana, tetapi yang pasti mereka keluar dari kelas yang pengap dengan pelajaran.

Dalam hitungan menit, ruang kelas itu lengang. Suara riuh perlahan menjauh, menyisakan keheningan yang, bagi Hilal, teman lamanya.

Hilal tidak beranjak. Dia berbalik, mengambil kantung plastik hitam yang membalut bekal dari Suhunia. Begitu dibuka, makanan favoritnya terlihat. Meski sederhana, tidak ada lauk lain, tetapi nasi goreng buatan uminya akan selalu dimakannya sampai habis.

Di sampingnya, Kavian juga melakukan hal serupa. Dia mengeluarkan kotak bekal berwarna biru tua dari dalam tas. Bunyi penutup terdengar saat penutup kotak bekal dibuka, diikuti aroma gurih cumi asin cabai hijau yang seketika menguar, mendominasi udara kelas yang tadinya pengap.

Kavian melirik bekal Hilal. Nasi goreng itu tampak polos, tanpa telur ceplok atau kerupuk, hanya nasi yang digoreng dengan bumbu dasar kecap. Namun, Kavian bisa melihat betapa lahapnya Hilal menyantap suapan pertama.

Lihat selengkapnya